Skip to main content

Posts

bukan aku

Aku masih saja tidak mengerti apa mau mu. Kemarin, kamu seperti sangat menginginkan aku seolah kamu tidak mau kehilangan aku. Tapi hari ini, sungguh berbeda. Apa besok kamu akan baik lagi? ah kamu selalu saja begitu. Apa kamu pikir aku ini layangan? yang bisa kamu tarik ulur sesuai angin yang ada. Kamu itu tidak jelas. Entah ingin berusaha untuk bersamaku atau hanya ingin bermain-main dengan ku. Sebenarnya bisa juga aku bersikap seperti itu padamu, tapi aku tidak mau saja melihat mu terluka karena aku. Karena jika aku balas dendam, sakit hatimu mungkin tidak ter-sembuh-kan. Jadi sepertinya sekarang, biarkan saja aku dengan hidup ku dan urus saja dirimu sendiri. Aku tidak bisa bersama seseorang yang bahkan untuk menentukan hidupnya sendiri pun belum mampu. Karena kalau kamu berharap pada ku, berharap aku bisa menyelesaikan masalahmu, sebaiknya aku katakan terus terang bahwa aku tidak mampu. Mungkin kamu pikir aku jahat atau kejam tapi tidak apa, lebih baik begitu. Semoga kam...

Pernah (3)

Siang itu aku nggak kembali lagi ke kelas. Aku pulang. Kau mungkin tidak tau rasanya jadi aku atau aku harus jelaskan padamu? Ah aku juga nggak ngerti sebenarnya. Apalagi kamu, kamu nggak akan ngerti. Aku duduk di jendela kamar sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah kejadian itu. Disini sepi dan sunyi tapi di kepalaku ramai dan berisik .  Apa salahnya aku dekat dengan Roby? Aku hanya berteman dekat. Jika Ivan tidak membiarkan aku berteman dekat dengan laki-laki lain, apa maksudnya itu dia cemburu? Tapi apa harus cemburu dengan Roby yang juga temannya sendiri? Ivan berhasil banget membuat lamun ku kali ini begitu lama. Lalu jika Ivan cemburu berarti dia merasa kalau keberadaannya tergantikan dong ya? Gila. Dia cemburu karena aku dekat dengan temannya tapi apa dia nggak sadar bagaimana perasaan aku waktu dia jadian sama Hanifa? Ternyata sekali aneh akan tetap aneh. Aku dekat dengan Roby tapi ya hanya sebatas teman dekat saja, tidak ada rasa meski ak...

Pernah (2)

Aku masih nggak tau apa maksud Ivan itu karena dia nggak menjawab pertanyaan terakhir ku. Pertanyaan yang kini harus aku duga-duga sendiri bagaimana jawabannya. Aku pulang dengan bekal pertanyaan yang tak kutemui jawabannya. Tapi apa boleh buat? Nggak seharusnya aku meminta jawaban itu dari Ivan, kan pertemanan ku dengan Ivan udah lama(?). Ku rebahkan tubuhku di atas kasur dan sejenak membiarkan pikiran ku melayang memikirkan hal yang tak seharusnya dipikirkan. Aku menangis menyadari semua ini. Menyadari bahwa memang Ivan nggak menyukai aku seperti bagaimana aku padanya. Malam itu aku mencoba dengan sungguh untuk berdamai dengan diriku, dengan perasaan Ivan yang bukan untukku. Akhirnya aku menerima peran Juliet yang Ivan tawarkan dan tampil didepan banyak orang sebagai sepasang kekasih yang begitu serasi namun memang benar, itu hanya di dalam drama. Sejak latihan sampai penampilan selesai aku nggak pernah membahas pertanyaan yang bersangkar di kepalaku yang ku harap Ivan ...

Pernah (1)

Halloo. Apa kabar semuanya?   Ivan datang dengan senyum yang merekah dibibirnya padahal dia tau dia udah telat. Nggak ada basa-basi lain, dia mengambil kursi dan asik aja langsung nimbrung dengan teman yang lain. Disapanya semua orang yang ada disana sampai-sampai pegawai cafe pun tak lepas dari sapaannya.  Datangnya Ivan menambah warna acara reuni SMA 48 kali ini. Terlihat dari sikapnya jelas terlihat bahwa Ivan adalah seorang yang humoris dan ramai. Nggak mungkin kan kalau anak pendiam mau nyapa semua orang di cafe bahkan orang lain yang nggak dia kenali. Oh ya, namaku Salsa, aku mau cerita sedikit nih tentang kisah zaman SMA ku. Ada hubungannya juga kok sama Ivan hahaha, tapi nggak mungkin kan aku langsung menceritakan bagaimana akhirnya? Lucu dong kalau setiap penulis langsung menceritakan akhir ceritanya setelah prolog? Tapi kisahku dengan Ivan nggak banyak-banyak juga sih, cuma cukuplah pelajaran yang aku dapat darinya. Dulu aku itu sasaran empuk kelakuan...

Beda

"Ayo cepat! Larii, hahahhaha" Bahagianya Zico yang meneriaki aku dari jauh. Terlihat dia begitu bahagia dan tentu saja aku juga sangat bahagia dengan laki-laki tinggi berambut gondrong ini. Aku senang dengan Zico meski kami nggak ada hubungan spesial. Aku selalu bersama Zico, entah kenapa akhir-akhir ini setiap kegiatan aku selalu bersamanya sampai-sampai banyak orang yang mengira kalau aku dan Zico berpacaran. Apa mereka nggak tau kalau itu nggak akan mungkin terjadi? Hal yang cukup mustahil dalam hubungan ini. "Udah ah, aku capek" "Baru 2 putaran udah capek, cemen kamu Fi" Begitulah Zico, suka banget ngeledek aku bahkan kadang suka kelewatan tapi kenapa ya aku nggak pernah marah kalau diledekin dia? Zico emang beda banget dari teman-temanku yang lain .  Setiap Sabtu sore aku selalu nemenin dia lari di gor pusat, Zico suka banget olahraga dan kayanya dia bisa semua cabang olahraga deh. Kadang dia bisa olahraga seharian, paginya...

Kamu bosan? Aku nggak (3)

"hai, apa kabar, Han?" Apa-apaan ini. Apa dia sudah gila? Apa yang sedang dia rencanakan sebenarnya?! Aku nggak boleh balas pesan murahan ini. Nggak. Aku harus kuat. Enak aja datang seenak jidat sendiri. Pesan yang baru ku terima pagi itu membuat ku kembali flashback . Ah pagi ku kacau. Mudah banget dia merusak suasana hatiku yang sebenarnya juga sudah rusak sebelumnya. Semua kenangan yang udah aku coba kubur dalam-dalam kini malah mengapung kembali. Mengudara lagi. Mengotori langit cerahku. "Apa semudah ini baginya? Apa dia nggak tau kalau aku perlu berminggu-minggu untuk mengikhlaskan kepergiannya?" Pagi itu aku tetap datang ke kampus meski pikiranku kacau karena sapa hangatnya yang telah ku baca. Lemah sekali aku rasanya jika dihadapkan dengan Fadil lagi. Dihadapkan dengan harapan yang mengecewakan. "Pagi Hanaa. Kok belakangan ini datang sendiri mulu? Pangeran kamu mana?" "Pagi Vi, hahaha yuk masuk kelas" ...

Kamu bosan? Aku nggak (2)

Hari ini sangat melelahkan. Aku lagi sibuk menanam ulang tanaman-tanaman succulent ku yang tampak sudah tak terawat. Biasanya aku senang sekali dengan succulent ini tapi kini entah kenapa aku rasa nggak begitu senang dengannya. Nggak ada lagi hal yang menarik bagiku tapi meski begitu untungnya hatiku baik-baik saja.  Seminggu sudah aku lewati tanpa Fadil. Kayanya gapapa deh. Sejauh ini aku masih hidup dan hidupku tetap berjalan normal nggak seperti yang aku bayangin kemarin.  Aku pikir setelah pertemuan terakhir itu, akan berakhir pula seluruh isi bumi untuk ku. Tapi ternyata tidak. Sama sekali tidak. Lupain dia gampang, tapi lagi-lagi tidak dengan memori nya. Memang awalnya terasa berat banget buat lupain semua kebiasaan-kebiasaan manis dari hal-hal kecil yang dulu aku rasa itu tidak akan berakhir namun sebaliknya malah hal itu yang kini berakhir lebih dulu.  "Kenapa bisa gini ya? Sedih juga kalau dipikir-pikir." Tapi balik lagi, sekarang semua udah terja...

Kamu bosan? Aku nggak (1)

"aku capek" Kata itu keluar dari mulut kecilnya yang sontak membuatku berhenti berjalan dan terdiam sejenak. Aku bingung dengan pernyataannya. Rasanya seperti dihantam badai besar. Tubuhku lemas membayangkan kata perpisahan darinya. Ah pikiran ku terlalu jauh. Hari ini adalah hari pertama kami bertemu kembali setelah semalam kami bertengkar di depan kedai kopi langganannya. Aku bingung. Apakah dia capek karena sudah berjalan menyusuri tepi pantai cukup jauh atau dia capek dengan hubungan ini. "apalagi salahku sampai dia bisa berbicara seperti itu? apalagi? semalam aku sudah mengalah dan bahkan aku yang meminta maaf terlebih dulu padahal aku tau aku nggak salah" Banyak pertanyaan berkumpul di kepalaku yang seolah ingin membunuhku. "kita duduk dulu yuk, sunset nya lagi bagus" Lagi-lagi aku menahannya. Aku nggak mau bertengkar dengannya saat ini. Aku harus tetap tenang menghadapi manusia yang sangat aneh ini. Aku nggak mau kehilangan dia. N...