"hai, apa kabar, Han?"
Apa-apaan ini. Apa dia sudah gila? Apa yang sedang dia rencanakan sebenarnya?! Aku nggak boleh balas pesan murahan ini. Nggak. Aku harus kuat. Enak aja datang seenak jidat sendiri.
Pesan yang baru ku terima pagi itu membuat ku kembali flashback. Ah pagi ku kacau. Mudah banget dia merusak suasana hatiku yang sebenarnya juga sudah rusak sebelumnya. Semua kenangan yang udah aku coba kubur dalam-dalam kini malah mengapung kembali. Mengudara lagi. Mengotori langit cerahku.
"Apa semudah ini baginya? Apa dia nggak tau kalau aku perlu berminggu-minggu untuk mengikhlaskan kepergiannya?"
Pagi itu aku tetap datang ke kampus meski pikiranku kacau karena sapa hangatnya yang telah ku baca. Lemah sekali aku rasanya jika dihadapkan dengan Fadil lagi. Dihadapkan dengan harapan yang mengecewakan.
"Pagi Hanaa. Kok belakangan ini datang sendiri mulu? Pangeran kamu mana?"
"Pagi Vi, hahaha yuk masuk kelas"
Namanya Vivi, dia anak jurnalistik juga waktu SMA. Dia satu-satunya teman dekatku sejak SMA maksudku sejak aku aktif dalam ekskul jurnalistik lebih tepatnya. Aku dan Vivi sering satu kelompok waktu bikin tugas jurnalistik makanya bisa akrab gitu. Dan kayanya cuma dia deh yang tau banyak tentang aku selain Fadil. Teman ku sih banyak, tapi yang benar bisa aku percaya untuk menceritakan hal spesifik cuma Vivi meskipun dia cerewet dan banyak tingkah dia nggak pernah bongkar rahasia atau menceritakan apa yang sudah aku ceritakan padanya kepada orang lain. Tapi kali ini, tentang perpisahan yang nggak aku inginkan ini aku nggak mau Vivi tau.
"Kamu ribut ya sama Kak Fadil?"
Pertanyaan yang ia lontarkan sambil meletakkan tas dan bukunya ke atas meja, membuat aku bingung mau menjawab dengan kalimat apa dan bagaimana. Aku juga nggak tau ini benar perpisahan atau bagaimana. Kan Fadil nggak pernah terus terang mengenai usainya hubungan ini.
"Hahaha, nggak tau juga, Vi. Oh ya, tugasnya udah?"
Aku nggak boleh terlihat menyembunyikan sesuatu meski kayanya Vivi paham maksudku, dia nggak lagi gubris tentang itu sampai kelas selesai. Sebenarnya aku takut kalau Vivi tau soal ini, aku takut dia akan menemui Fadil. Aku nggak mau itu terjadi karena kalau sampai itu terjadi berantakan semua semesta ku. Aku nggak tau nanti harus bela siapa, aku juga nggak tega menyalahkan Fadil. Ah anak bodoh. Sudah ditinggal begitu aja masih juga memikirkan perasaan Fadil.
"Vi, aku duluan ya, ada urusan penting"
Vivi mengangguk aja, aku rasa dia sedang menerka apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Fadil. Hmm semoga perasaan ku aja.
"Hana! Hey!"
Suara yang nggak asing ditelinga namun aku berusaha untuk tidak menoleh kebelakang dan memilih untuk tetap berjalan. Aku nggak mau bertemu Fadil. Aku harus jalan lebih cepat.
"Hana, kita harus bicara"
Fadil menahan tanganku dan langkahku terhenti. Hatiku terasa berat. Berat sekali. Aku nggak sanggup untuk bicara. Jantungku mau copot rasanya. Setelah sekian lama aku berusaha baik-baik saja namun kali ini, detik ini aku tidak baik-baik saja. Sangat tidak baik-baik saja.
"Hana, maaf"
"Untuk apa?"
"Aku minta maaf, untuk segalanya"
Aku nggak mau berdebat dengannya. Aku juga nggak mau berbicara lebih banyak lagi dengannya.
"Baik, tapi tolong lepaskan tanganku"
Fadil nggak lagi menahan ku, dia membiarkan aku pergi, berlalu. Aku pulang, bis kota yang aku naikin lagi-lagi terjebak macetnya ibukota. Aku lebih memilih untuk berdiri saja karena duduk dan memandangi jalan hanya mengundang sedih datang. Lebih baik aku berdiri berdempetan dengan keramaian. Hampir satu jam aku berdiri. Capek rasanya tapi kurasa itu lebih baik daripada aku harus berhadapan dengan kenangan.
Aku turun dari bis dan kau tau siapa yang ada di depan pagar rumah ku? Fadil. Iya, dia sudah duduk di motornya dan kayanya udah nunggu lama. Aku kaget dan bingung. Apakah aku harus menemuinya dengan risiko berhadapan dengan kenangan atau aku naik bis lagi biar nggak ketemu Fadil? Ah sial sekali hidupku.
"Macet ya?"
"Iya"
"Aku mau jujur sama kamu, Han. Maaf sebelumnya atas sikapku ini"
"Sudahlah, Dil. Aku nggak mau bahas ini lagi"
"Jangan begitu Han, ungkapkan saja amarahmu padaku. Aku berhak menerima itu"
"Aku capek Dil, aku masuk dulu ya. Kamu pulang aja"
"Hana, aku tau kamu marah sama aku dan itu wajar. Aku juga nggak tau kenapa aku bisa begitu jahat sama kamu"
Aku nggak tega liat Fadil begitu padaku. Aku sebenarnya bisa saja kembali baik padanya dan melupakan kesalahannya kemarin tapi kayanya sekarang nggak tepat jika aku begitu. Aku harus tetap kuat meski sebenarnya tidak. Aku harus tetap bersikap seolah aku nggak lagi mau bertemu dengan Fadil. Aku mau memberi sedikit rasa sakit padanya agar nanti dia bisa belajar dari kesalahannya ini.
"Maafin aku Han, kemarin aku bosan sama kamu. Tapi sekarang aku udah sadar kok Han. Aku mau memperbaiki kesalahanku Han. Izinkan aku mencobanya lagi"
"Dulu, kamu bosan tapi aku nggak, Dil. Kamu salah karna kamu ngilang gitu aja. Kamu pikir aku akan baik-baik aja? Nggak ada yang baik-baik aja setelah perpisahan, Dil"
"Maafin aku Han, aku bingung banget waktu itu, aku bosan sama kamu dan kamu nggak bisa ngerti aku. Malam waktu di kedai kopi itu benar benar membuat ku jenuh Han"
"Sudahlah Dil, nggak usah dibahas lagi"
"Han... Aku minta maaf"
Permintaan maafnya kali ini membuat pikiranku sibuk mengingat kembali sakit yang pernah aku rasa itu. Pikiranku terbang kesana-kemari menghancurkan benteng pertahanan yang sudah aku bangun berminggu-minggu lamanya. Aku kesal. Sungguh. Usahaku seperti tidak ada hasilnya. Kedatangannya membuka luka lamaku yang bahkan belum kering kini harus kembali basah.
"Fadil! Kamu tau kamu salah tapi kenapa kamu masih membela diri?! Apa kamu pikir salah aku yang nggak ngerti kamu? Mau kamu apasih? Kalau kamu minta maaf, udah. Udah aku maafin. Udahlah baiknya kamu pulang aja, nggak ada lagi kata kita, Dil!"
Fadil diam saja mendengar aku yang sedang kesal, aku nggak tahan. Aku udah usaha buat merelakan semuanya tapi kini malah dia yang meminta amarahku. Aku marah dan sedih. Aku marah pada diriku yang aku rasa ini nggak dewasa sama sekali. Aku sedih karena kenapa aku berkata begitu pada Fadil? Apa Fadil akan sakit hati karena perkataan ku?
"Han, aku mohon..."
Aku nggak bisa terus-terusan marahin dia, semua kebaikannya padaku dulu kini kembali membayangi. Sudah sesak dadaku rasanya, aku nggak pernah begini sebelumnya. Sungguh aku nggak tau harus berbuat apalagi. Aku menarik napas panjang dan mencoba untuk kembali berbicara dengan tenang. Aku nggak boleh terlihat lemah di depan dia.
"Mau kamu apa?"
"Aku mau ada kita, lagi"
"Dil, terimakasih sebelumnya atas segala yang telah kamu ajarkan padaku. Segala yang kamu lakukan itu telah mendewasakan aku. Tapi, apa kamu tau? Aku jatuh banget waktu kamu tinggalin gitu aja. Aku nggak tau apa yang terjadi tiba-tiba kamu beri aku perpisahan tanpa kata selamat. Aku butuh berminggu-minggu untuk pulih, Dil. Tapi sampai kini aku belum benar-benar pulih."
"Hann, maafin aku"
"Dil, sekarang aku udah nggak apa-apa. Aku udah berdamai dengan semuanya. Biarlah kisah kita begitu Dil, nggak ada yang perlu diperbaiki. Kalau kamu datang hanya untuk menghapus rasa bersalah, kamu nggak perlu begitu. Aku udah memaafkan kamu, Dil. Kamu hidup aja dengan duniamu dan aku dengan duniaku karena kini dunia kita nggak lagi satu, Dil"
Sore itu, aku meninggalkan Fadil sendiri di depan rumah. Aku nggak sanggup lagi menahan air mata yang nggak ingin aku perlihatkan di depannya. Sedih banget menyadari bahwa aku dan Fadil kini benar benar selesai. Perasaanku nggak main-main padanya, alasan bosan nya itu nggak bisa aku terima lagi. Kedatangannya ini bukan karena dia mencintaiku, bukan. Aku rasa nggak ada salahnya untuk aku benar-benar menjauh darinya.
Jauh sebelum kisah ini usai, bosan memang sudah sering menghampiri perjalanan cinta yang sudah 4 tahun lamanya ini. Tapi aku dan Fadil bisa mengatasi nya. Aneh saja, makin dewasa malah makin kalah dengan rasa bosan. Padahal harusnya makin handal untuk mengatasi rasa itu. Aku nggak tau apa benar bosan menjadi penyebab utama dia meninggalkan aku dulu atau hanya dia ingin bernapas sedikit lebih bebas. Padahal kalaupun dia mau lebih bebas aku bisa mengerti kok, toh aku juga tau aku bukan satu-satunya bintang di langit Fadil. Aku bisa kok memberinya lebih banyak ruang jika itu yang dia inginkan. Tapi apalah mau dikata. Fadil tidak memberi tau aku apa yang sebenarnya dia inginkan. Dia membiarkan aku menduga-duga tak menentu. Dia membiarkan aku perlahan membencinya. Tapi lucu sekarang dia balik dengan ribuan kata maaf untuk menyakinkan aku bahwa benar dia mencintaiku. Tapi Dil, cinta nggak butuh kata maaf. Cinta nggak butuh kata-kata. Cinta itu perbuatan Dil, seperti yang kamu lakukan meninggalkan aku tanpa kata. Kamu tau itu kan?
Setelah kejadian itu, aku mencoba untuk tidak lagi memikirkan apakah salah ku yang tidak memberinya kesempatan atau salah dia yang sudah memecahkan cangkir kepercayaan ku padanya. Bukankah jika Fadil benar mencintaiku, dia nggak akan membiarkan aku merana berminggu-minggu karenanya? Bukankah harusnya jika dia benar mencintaiku, dia akan mengunjungi ku secepatnya setelah peristiwa tanpa kata itu selesai?
Fadil, aku tetap mencintaimu. Walau yang ku terima nggak begitu. Aku nggak akan bisa membenci kamu, Dil. Kamu terlalu istimewa buat aku. Aku akan selalu mencintaimu dengan tulus meski kamu nggak pernah serius. Aku yang akan merawat kisah ini, biarlah aku. Aku yakin kamu akan baik-baik saja tanpa aku meski akulah yang tidak baik-baik tanpa kamu. Nggak apa-apa Dil, aku udah training hidup tanpa kamu beberapa minggu lalu, hehehe.
Dil, aku bahagia pernah kenal kamu meski kini bahagia itu telah habis tak bersisa. Nanti kalau kamu dapat pasangan baru, jangan mudah bosan ya Dil. Kamu tau kan apa jadinya jika kamu ulang lagi cerita kita pada kisah barumu nanti.
Dil, aku nggak akan pernah bosan dengan kisah kita meski kini telah usai. Bukankah mencintai nggak harus saling memiliki? Bukankah perpisahan berarti merelakan orang yang kita cintai bahagia? Bagiku nggak semua cerita harus berakhir bahagia bersama Dil, bahagia sendiri-sendiri bukankah juga sebuah kebahagiaan?
Kini aku berhenti menangis. Nggak ada lagi yang perlu aku tangisi karena semua ini adalah awal kebahagiaan baru bagiku. Terimakasih Dil, berkatmu aku bisa menulis cerita ini. Semoga nanti kalau kamu baca, kamu bisa ingat lagi dengan kisah Hana dan Fadil yang berakhir dengan aneh. Hahaha. I love you but I'm letting you go, Dil.......
Comments
Post a Comment