Skip to main content

Beda



"Ayo cepat! Larii, hahahhaha"

Bahagianya Zico yang meneriaki aku dari jauh. Terlihat dia begitu bahagia dan tentu saja aku juga sangat bahagia dengan laki-laki tinggi berambut gondrong ini. Aku senang dengan Zico meski kami nggak ada hubungan spesial. Aku selalu bersama Zico, entah kenapa akhir-akhir ini setiap kegiatan aku selalu bersamanya sampai-sampai banyak orang yang mengira kalau aku dan Zico berpacaran. Apa mereka nggak tau kalau itu nggak akan mungkin terjadi? Hal yang cukup mustahil dalam hubungan ini.

"Udah ah, aku capek"

"Baru 2 putaran udah capek, cemen kamu Fi"

Begitulah Zico, suka banget ngeledek aku bahkan kadang suka kelewatan tapi kenapa ya aku nggak pernah marah kalau diledekin dia? Zico emang beda banget dari teman-temanku yang lainSetiap Sabtu sore aku selalu nemenin dia lari di gor pusat, Zico suka banget olahraga dan kayanya dia bisa semua cabang olahraga deh. Kadang dia bisa olahraga seharian, paginya dia lari, siang renang, sore basket, malamnya futsal. Gila nggak tu? Aku aja diajak lari setiap hari Sabtu udah ngeluh kecapekan malamnya, tapi dia bisa olahraga begitu tanpa ngeluh capek.

"Fi, malam Minggu jalan yuk"

"Nggak ah, kan kamu futsal"

"Nggak apa-apa, kita jalan dulu nanti aku mainnya abis ngantar kamu pulang aja. Ayolah, aku maksa lho ini"

Malam Minggu pukul 7 dia sampai di depan rumahku. Waktu itu aku masih nggak yakin kalau aku akan pergi dengan Zico. Gugup. Padahal bukan siapa-siapa. Zico dan aku sama-sama sendiri jadi ya, nggak ada yang bakal marah kalau kami pergi berdua. Tapi gara-gara itu malah membuat perasaanku padanya jadi berbeda.

Malam itu adalah malam pertama aku pergi berdua dengan Zico. Senang sekali rasanya bisa berduaan dengan Zico diatas motornya yang kayanya abis dicuci, bersih dan mengkilat banget soalnya. Kau tau? Zico wangi banget, nggak sadar kepala ku udah dipundaknya aja, nyaman banget. Ah jangan sampai aku suka sama dia. Jangan.

Zico membawa ku ke cafe yang lumayan jauh dari rumah tapi aku malah senang karena dengan begitu aku punya waktu lebih lama untuk berduaan dengan Zico diatas motornya. Kayanya hampir 30 menitan di jalan akhirnya kami sampai.

"Cafe nya romantis banget Zi, kita ganti tempat aja yuk"

"Kenapa Fi? Bukannya bagus ya, kapan lagi kita berada di suasana romantis begini"

"Nggak deh, aku nggak mau ngeliatin orang pacaran disini Zi. Males banget"

Zico membawaku masuk dan duduk di kursi di pinggir kolam. Dia seperti nggak peduli dengan apa yang kubilang tadi. Aku nggak suka aja berada di tempat romantis dengan orang yang bukan siapa-siapa ku dan bahkan nggak akan mungkin bisa ada sesuatu yang spesial diantara aku dan Zico. Aku takut nanti aku jatuh cinta dengan Zico dan itu bahaya. Sangat bahaya.

"Zi, kita pulang aja boleh?"

"Fii, ayolah nikmati aja dulu. Sekali ini aja pliss"

Malam itu jadi malam terindah sekaligus malam yang nggak ingin aku ulangi sama sekali. Sebenarnya suasana malam itu nyaman banget, romantis seperti kataku. Aku senang karna Zico baik banget waktu itu nggak seperti biasanya yang suka bikin aku kesal. Aku nggak mau terbawa suasana makanya sepanjang waktu aku harus selalu tersadar agar nggak jatuh dalam kesenangan yang nantinya bisa bikin aku sakit.

"Fi, kamu langsung tidur ya! Aku mau futsal dulu"

Seperti yang dia janjikan, akan mengantar ku pulang dulu baru main futsal. Aku nggak habis pikir kenapa Zico yang biasanya jahil dan heboh tiba-tiba berubah menjadi Zico yang begitu cool dan romantis. Strategi apa sebenarnya yang sedang dia jalankan ini? Apa tujuannya? Pesan apa yang hendak dia sampaikan melalui perubahan perilakunya ini?
Setelah kejadian malam itu, kini, setiap malam, aku selalu menduga-duga bagaimana perasaan nya padaku padahal dari awal jelas dia hanya teman, teman baik ku dan akan selalu begitu. Tidak lebih dan tidak akan lebih.
Beriringan dengan perasaan ku ini, sikap Zico juga berubah. Nggak lagi suka ngeledek aku seperti dulu. Malah beribu kata gombal yang sering keluar dari mulutnya kini. Gimana nggak baper coba?

Benar kata orang-orang, pertemanan laki-laki dan perempuan nggak selamanya akan berjalan baik sampai salah seorang diantaranya jatuh. Jatuh cinta. Tapi kayanya ada kok yang berhasil melewati itu. Maka berbahagialah kalian yang udah berhasil melewati masa-masa drama perasaan seperti yang sedang aku rasakan dengan Zico.

"Fi, kayanya aku suka sama kamu"

"Nggak. Nggak boleh"

Ada apa ini?! Kenapa Zico tega mengatakan itu? Apa Zico nggak tau betapa takutnya aku dengan pernyataannya itu? Apa Zico nggak ngerti tentang batas hubungan antara dia dan aku ini terlalu jauh? Aku nggak mau karena kejadian ini aku dan Zico nggak lagi berteman. Aku mencoba tenang dan kembali memahami pernyataannya tadi dan ku rasa itu masih kayanya dan itu nggak pasti. Sanggahan ku tadi sepertinya nggak cukup buat Zico.

"Fi... jangan biarkan aku sendiri dengan perasaan ku ini"

"Tapi, Zi... Bukankah kamu tau kalau kita memang diciptakan hanya untuk berteman?"

Zico nggak menjawab pertanyaan ku dan bahkan dia nggak bicara lagi sampai kami pulang. Apa Zico marah denganku? Tapi siapa suruh dia begitu. Kan dia tau ada batas begitu tinggi antara aku dengan dia kenapa masih nekat? Apa dia mau memastikan bahwa memang hanya ada perasaan luka yang tersisa jika dia mencoba mencintaiku?

Sabtu, hari ini aku kembali menemani Zico untuk lari di gor pusat. Aku lihat hari ini dia agak rapi, rambut gondrong nya diikat! Manis sekali. Aku rasa dia udah menerima kenyataan bahwa dia dan aku nggak akan bisa bersatu deh, kan biasanya cewek kalau mau move on juga begitu kan? Merubah penampilan. Hari ini aku ikut lari dengannya meski kayanya kali ini dia nggak nungguin dan nggak becandain aku seperti biasa. Aku nggak mau menduga-duga dulu, ya jalani aja maksudku. Lagi-lagi, di putaran kedua aku udah capek banget lagian ini kenapa sih gor-nya luas banget kan aku udah capek padahal masih hitungan kecil. 2 putaran gor pusat itu kayanya sama dengan 4 atau bahkan 5 putaran lapangan voli di komplek ku, angka-angka ini sekarang membuat ku capek karena aku merasa udah lari jauh banget tapi angka yang kudapat masih kecil. Kaya udah usaha 100% tapi yang dinilai tuh cuma 20%. Kaya nggak setimpal.

"Aku capek Zi, pelan-pelan aja larinya, ya?"

Zico yang berada didepan ku nggak menjawab sama sekali dan memberi respon setuju dengan cara memperlambat larinya bahkan kayanya itu udah bukan lari lagi namanya, dia udah jalan. Zico yang berjalan di depanku tanpa pernah sekalipun menoleh melihat aku yang berada tepat dibelakang dia. Aku ikuti saja langkah kakinya yang sesekali sepatu ku nggak sengaja mengenai sepatu nya. Cukup jauh perjalanan ritual itu aku lakukan dan Zico tetap saja nggak memberi respon apapun. Nggak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Aku harus gimana ini, sudah berjam-jam bersamanya yang biasanya ramai kurasa kenapa kini sepi yang menghampiri kami?

Aku berhenti mengikuti langkah kaki Zico yang besar itu. Aku berdiri diam dibelakang. Ya. Diam saja. Mataku nggak lepas dari Zico. Pandangan ku tetap saja kedepan melihat Zico yang perlahan menjauh tanpa menyadari bahwa aku nggak lagi ada dibelakangnya. Bahwa aku, nggak lagi mengikutinya. Aku nggak tau harus bicara apa dan bagaimana memulai percakapan dengan dia karena dialah orang yang biasa memulai percakapan dan menghidupkan suasana hatiku.
Aku tau Zico nggak akan melihat aku yang kini sudah sangat jauh dibelakangnya. Akhirnya aku duduk di atas rumput lapangan bola yang para pemainnya ngeliatin aku terus.

Ini kenapa ada anak kecil duduk di lapangan, apa dia nggak takut kena bola, hah?

Sore itu kayanya aku jadi pusat perhatian orang-orang disana. Memang badanku kecil yang mungkin saja mereka mengira aku masih anak SMA atau mungkin juga anak SMP. Padahal semester depan aku udah KKN. Ah sudahlah, biar saja badanku yang kecil ini tapi hatiku nggak kecil kok.

"Tentang Zico, aku harus gimana lagi?"

Apa semua ini salahku karena telah mengingatkan Zico tentang perbedaan kami? Kok nggak logis aja rasanya dia marah dan diam padaku hanya karena itu. Apa aku harus menemuinya dan meminta kejelasan? Namun kejelasan apa yang harus aku minta? Ini hanya pertemanan biasa kenapa aku harus begitu posesif dengan perasaannya?

"Terserah dia saja mau ngapain, aku disini aja. Kalau dia mau pulang, ya pulang aja. Aku nggak peduli"

Aku duduk dipinggir lapangan sambil liatin orang-orang main bola, mereka ganteng-ganteng banget hahaha. Aku duduk disana sampai mereka selesai bermain, ah rasanya baru sebentar menikmati pemandangan ini dan sekarang mereka udah bubar aja. Suasana hatiku yang nggak menyenangkan tadi kini berubah dan rasanya tenang banget meski cuma ngeliatin orang-orang itu. Mereka tuh kompak banget, seru. Kesenangan yang mereka ciptain sendiri kini menular padaku.
Aku yang masih duduk di lapangan melihat Zico berjalan semakin dekat dan kayanya datang menuju kearah ku. Apa yang dia mau sekarang?

"Fi, ayo pulang"

"Kamu duluan ajalah, aku masih mau disini"

Zico menarik tangan ku dan dia hampir mau menggendong aku karena aku nggak mau berdiri!! Huft perasaan ku campur aduk. Deg-degan banget, untung dia nggak nekat gendong aku. Akhirnya sore itu aku diantar Zico pulang dan tentu saja nggak ada sepatah kata pun dari Zico.
Kau tau kan, sikap Zico yang kini berbeda, jauh berbeda tentu saja menambah keyakinan ku kalau Zico udah nggak mau lagi berhubungan dengan ku. Kalau pun dia mau berteman lagi, bukannya dia akan berbicara dan membahas berbagai topik cerita seperti biasa? Kan dia punya banyak list cerita diotaknya yang dulu aku pikir nggak akan habis-habis tapi ternyata sekarang kaya perpustakaan dipikirannya itu sedang terbakar atau mungkin sedang direnovasi? Karena memang nggak ada percakapan apapun antara aku dan Zico. Entah dia kehabisan kosakata atau dia memang nggak mau memulai percakapan dengan ku. Aneh banget menurut ku seorang Zico yang cerewet tiba-tiba diam dan terus menerus memancing pikiran ku untuk menerka.

Zi, kamu salah deh kayanya nyuruh aku mikir apa kesalahan ku padamu. Biasanya kan kamu yang berbuat salah padaku. Dari dulu yang bikin masalah itu kamu, masa sekarang tiba-tiba ini semua jadi seolah salah ku sih? Apa yang kamu mau sebenarnya? Kan memang benar kita nggak akan bisa bersatu. Kita berteman aja udah lebih dari cukup tapi kenapa kamu mau meminta lebih sih?

Malam itu, pikiranku bergelut dengan hatiku yang perdebatan diantara mereka nggak sanggup untuk aku ladenin. Yasudahlah, Zico kayanya mau-mau aja kaya gini kenapa aku harus meminta dia seperti dulu. Dia nggak berubah kayanya, dia cuma baru memperlihatkan bagaimana dia sebenarnya, bagaimana dia tanpa topengnya. Pikiranku jadi jahat banget tentang Zico, kaya sikap dia sekarang itu udah menutupi ribuan kebaikan yang dia lakukan untuk aku. 

Memang ya manusia, mudah banget menilai orang dari kesalahan kecil yang mungkin sebenarnya itu bukan kesalahan, mungkin aja itu pilihan hidupnya yang menurut kita nggak bener karna pilihannya itu nggak kita sukai. Perdebatan antara otak dan hati yang nggak pernah sinkron ini membuat aku capek dan kayanya aku mundur aja berteman dengan Zico, nggak ada alasan kuat untuk aku memperbaiki pertemanan yang sudah jatuh karena perasaan ini.


***


Kayanya udah hampir sebulan aku nggak bertemu Zico. Apa dia serius dengan keputusannya untuk nggak berteman lagi dengan ku? Zico kok berubah banget, kenapa Sabtu kemarin dia nggak ngajak aku lari ya? Pikiranku kembali menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada Zico. Memang aku dan Zico cuma sebatas teman tapi karena pertemanan ini udah cukup lama, rasanya aneh aja tiba-tiba berjauhan kaya gini, kaya orang yang nggak pernah kenal. Aku mikir Sabtu depan aku harus datang ke gor lihat dia ada disana atau nggak. Tapi aku malu untuk datang ke gor sendiri, banyak cowok-cowok yang suka bikin kesal di depan gerbang nya.

Udah hari Sabtu dan kayanya aku nggak jadi pergi ke gor untuk menemui Zico. Untuk apalagi aku menemui dia yang nggak mau menerima kenyataan tentang perbedaan ini? Yasudahlah mau gimana lagi.

Aku dan Zico memang berbeda dan perbedaan itu sangat jauh. Sejauh tasbih dan Rosario. Ya. Kami berbeda keyakinan dan Zico udah tau itu tapi aneh ya, dia yang nggak menerima kenyataan ini malah aku yang jadi sakit. Sakit yang seharusnya dari awal udah aku wanti-wanti karena nggak ada manusia yang bisa mengendalikan perasaannya. Waktu itu memang aku dan Zico bisa mengubur perasaan kami dan sampai sekarang aku pun masih tapi Zico nggak. Zico kalah dengan perasaannya dan salah karena dia mengungkapkannya. 

Aku sering menemaninya sholat Jum'at di mesjid dekat gor. Aku tau dia taat pada agamanya meski penampilan dia agak kurang meyakinkan karena rambut gondrong yang kayanya nggak pernah dipotong sejak lama itu. Zico sering bercerita mengenai kisah nabi karena memang aku yang meminta. Kisahnya hampir sama dengan cerita di kitab ku tapi memang ada beberapa versi yang malah membuat ku semakin tertarik mendengarnya. Perbedaan ini nggak bisa dianggap enteng karena keyakinan itu hal yang sakral bagi Zico dan tentu saja bagiku juga. Meski berbeda begini, kenapa dulu bisa dekat banget ya? Aku mikir Zico adalah orang yang tepat bagiku. Karena dia tau cara mengatasi ku yang kadang nggak akan bicara duluan sebelum lawan bicara ku memulainya. Zico bisa mengerti dan menerima bahwa aku nggak akan bisa ikut masuk kedalam keyakinannya, dulu. Tapi sekarang seolah dia mau menjauh saja dariku, toh juga nggak akan bisa bersatu

Lagi-lagi aku menerka isi kepala Zico. Ah rindu rasanya dengan Zico, aku rindu menjalani semua kegiatan ini dengannya, aku juga rindu menemaninya sholat Jum'at, dan tentu saja aku rindu hari Minggu. Biasanya Zico selalu mengantar aku ke gereja, demi untuk pergi dengan Zico aku bahkan mengorbankan kebersamaan dengan keluarga ku yang kalau hari Minggu datang ke gereja bersama-sama dan berlama-lama berdoa disana. Kalau aku? Kayanya kalau aku lama-lama di gereja, Zico akan hilang dari muka bumi ini. Begitu takutnya aku membuat Zico lama menunggu. Tapi sebenarnya Zico mau kok nungguin aku selesai ibadah, aku nya aja yang berlebihan.

Sejak jauh dari Zico, entah kenapa aku sering ke gereja. Aku sering berbicara dengan Tuhan tentang perbedaan ku dengan Zico. Tapi Tuhan nggak jawab. Nggak pernah menjawab. Bahkan Dia nggak mau diskusi dengan ku. Bukannya agama udah mengatur tentang cinta? tapi kenapa aku diberi cinta yang salah? aku masih bertanya-tanya apa benar aku mencintai Zico?. Ah aku juga nggak tau.

Sekarang aku jadi lebih rajin membaca kitab dan bahkan sekarang aku kaya tersadar gitu, bahwa semuanya udah diatur sama Tuhan. Semua yang aku jalani ini juga udah direncanain Tuhan. Dan kayanya Zico datang padaku cuma untuk memberi pelajaran dan pengalaman padaku, nggak lebih. Tuhan hebat banget bisa memberi pelajaran kepada umatnya yang banyak dan beragam. Kok bisa ya Dia merencanakan pelajaran yang bagus untuk masing-masing umatnya? Ah sepertinya aku hanya kurang bersyukur selama ini. Isi kepalaku selalu saja protes terhadap perbedaan antara Zico dan aku yang ternyata semua ini adalah bagian dari rencana-Nya.

Kayanya sekarang aku harus damai dulu deh dengan Zico. Nggak baik berpisah dengan akhir yang begini. Meski aku nggak tau ini benar perasaan cinta atau bukan, aku harus menerima kenyataan. Aku harus baik-baik aja dengan Zico dan memang harus begitu. Bukankah sesuatu yang dimulai dengan baik harus memiliki akhir penyelesaian yang baik juga?

Sabtu sore setelah cukup lama aku mengumpulkan niat, aku datang ke gor dengan nggak lagi peduli pada orang-orang yang akan aku temui. Kok Zico nggak ada? Apa dia nggak lagi suka lari?
Aku yang masih penasaran dengan keberadaan Zico terus berjalan melingkari gor yang luas ini. Berjalan sendiri membuat pikiranku melayang, kenangan yang dulu aku pernah lukis dengan Zico kini muncul. Bayang-bayang kebahagiaan yang dulu aku rasa kini seakan menertawakan aku. Aneh banget kisahku, belum jadian tapi sudah diujung jalan. Apa nggak bisa berteman aja? Kenapa Zico gitu? Dengan berteman aja cukup kok buat ku atau aku yang nggak cukup buat dia?

Udah hampir separuh lapangan aku kelilingi tapi nggak juga kelihatan batang hidungnya. Aku udah capek. Akhirnya aku menepi dan duduk sambil melihat sekeliling ku apa benar nggak ada Zico disini. Dan apa kau tau apa yang aku lihat? Ada Zico diatas tribun dan dia nggak sendiri. Ada cewek berkerudung dengan nya. Awalnya aku mengira mungkin itu adik atau kakaknya karena aku juga nggak boleh prasangka buruk kan? Aku kembali berjalan menuju tribun dengan rencana aku akan menemui Zico dan sedikit berbincang.

"Hai, Zi. Apa kabar?"

"Fii, kok tumben kamu disini? Sama siapa?"

Pertanyaan ku yang nggak dia jawab dan malah memberiku pertanyaan lagi. Ah Zico masih saja menyebalkan. Aku masih penasaran dengan cewek yang sedang bersamanya ini. Zico nggak bilang apa-apa dan percakapan kami juga seperti biasa, seolah-olah nggak ada hal lain yang pernah terjadi antara aku dengan dia.

"Zi, ini adikmu ya? Kok nggak pernah dikenalin ke aku?"

"Bukan, Fi. Ini pacarku, hehe kami baru aja jadian Fi"

Apa?! Apa yang dia katakan?! Apa aku nggak salah dengar?! semesta ku berhenti. Berhenti sejenak.  Tentu kau tau dan bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi aku saat itu. Nggak ada ekspresi yang bisa aku pilih untuk menggambarkan bagaimana perasaan ku saat itu. Apa yang harus aku jawab? Apa harus turut bahagia sedangkan aku tidak bahagia? Atau sedih? Tapi kenapa aku sedih? Bukankah aku dan Zico memang nggak ada apa-apa sedari awal?

"Oh ya, selamat deh buat kamu. Selamat udah nggak jomblo lagi"

"Hahaha iya Fi, kamu kapan nih nyusul punya pacar? Betah banget sendiri mulu"

Zico mengatakan itu kaya nggak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mudah banget dia bilang gitu. Aku yang nggak tau mau bicara apalagi hanya meninggalkan senyum pada dua sejoli yang serasi itu. Aku pulang. Nggak ada kata yang lain terucap oleh Zico. Dia benar-benar membiarkan aku pergi dan kayanya dia nggak tau kalau aku patah dan luka. Kenyataan yang baru aku tau ini langsung menghentikan kerja otakku. Hatiku mengomel terus dan terus saja menyalahkan dirinya yang terbawa perasaan pada sikap Zico yang sebenarnya nggak salah dia juga, toh benar Zico pernah bilang dia menyukai ku.

Aku pulang jalan kaki. Aku terus berusaha berpikir agar otakku bisa memproses semua yang udah terjadi ini. Aku nggak kuat lagi menahannya, ini seperti aku yang tenggelam dilaut sangat dalam yang tekanannya besar setara dihimpit 1600 ekor gajah Sumatra itu. Aku menangis sepanjang jalan menuju rumah. Sakit banget hati aku menyadari semua ini. Kenapa aku terlalu bodoh mengira hanya aku temannya yang dia suka padahal jelas aku nggak akan bisa dengan dia. Udah pasti Zico akan nyari cewek lain yang seiman dengan nya. Ini salahku yang seharusnya nggak perlu lagi menemui Zico, menemui kekecewaan. Sedih banget menyadari bahwa Zico bisa dengan mudah mencari pengganti ku yang jelas lebih baik dari aku. Yang berkerudung dan kayanya bisa menemani Zico lari untuk beberapa putaran. Nggak sama kaya aku.

Aku harus langsung mandi, menghilangkan jejak air mata sekaligus menghapus apa yang sudah aku ketahui hari ini. Aku nggak nyangka aja kenapa begitu cepat Zico berubah. Kenapa dia jahat? Apa dia nggak mikir perasaan ku?

Seharusnya aku sadar dari dulu bahwa aku dan Zico benar-benar berbeda. Ini bukan hanya perbedaan keyakinan lagi tapi ternyata juga perasaan. Batas yang aku rasa adalah perbedaan iman ini ternyata salah. Nggak itu penyebabnya. Mungkin aku lupa waktu Zico bilang dia menyukai ku kan awal perkataan nya ada kayanya. Kan kata kayanya itu sama aja dengan nggak pasti. Ah aku udah salah menduga. Aku pikir bukankah orang yang berbeda keyakinan masih boleh berteman. Tapi kalau begini ceritanya mana mungkin aku bisa berteman dengan dia? Mana mungkin aku rela dia punya pacar. Atau mungkin aku akan rela jika dia nggak ngilang waktu itu, jika dia setidaknya mau menceritakan tentang pacarnya itu padaku terlebih dulu, jika dia nggak berubah padaku. Iya. Jika dia nggak berubah padaku mana mungkin aku bisa menduga-duga sebanyak ini. Aku pasti akan mendukung dia menemukan pasangan yang tepat untuknya karena aku tau aku bukanlah orangnya. Tapi kenapa dia berubah?

Ah entah salah siapa. Aku nggak mau tau lagi. Aku capek hati. Setelah mengetahui bahwa Zico udah punya pacar, aku semakin rajin ke gereja. Aku berdoa pada Tuhan agar segera mempertemukan aku dengan jodohku. Aku nggak mau berlarut dalam kisah yang aku kira ini perbedaan keyakinan tapi ternyata ini lebih dari itu, perbedaan perasaan. Sejak itu aku baru menyadari memang benar aku mencintainya dan selama ini dia juga nggak berhasil membuat aku yakin. Dan kini aku sadar selama ini mencintai nya tapi aku malah harus menerima kenyataannya dia yang nggak mencintaiku.

Perbedaan perasaan kayanya lebih berat dari perbedaan keyakinan. Kita nggak bisa jatuh cinta sendirian karena manusia butuh hubungan timbal balik. Aku nggak tau mau mengakhiri cerita ini bagaimana karena ternyata aku harus mengikhlaskan perasaan ku kepada seseorang yang nggak memiliki perasaan yang sama dengan ku.

Karena seharusnya aku sudah mengikhlaskan Zico sesaat setelah aku mengenalnya. Seharusnya aku nggak menaruh harapan padanya. Dan seharusnya, pertemanan ini nggak pernah terjadi. Tapi apa boleh buat, mungkin ini pelajaran ku yang diberi Tuhan agar nanti aku bisa berubah lebih dewasa lagi. Pelajaran dari Tuhan ini sungguh nggak terduga sebelumnya. Aku masih nggak nyangka kalau perbedaan perasaan lah yang menjadi pembatas hubungan ku dengan Zico. Lucu aja dulu aku ngira Tuhan membatasi ku dengan Zico karena keyakinan yang beda, ternyata bukan. Perbedaan keyakinan nggak menjadi inti pelajaran nya. Kini aku harus menata kembali perasaan ku yang ternyata roboh karena aku sendiri. Maafkan aku, diriku. Maaf aku udah berharap pada selain kamu. Maaf aku udah mengandalkan orang selain kamu.

Ternyata cinta itu sama. Nggak ada yang dapat membatasi cinta, karena jikalau memang cinta kita harusnya bisa berkorban, bukan? Ternyata alasan cinta beda agama itu nggak bisa dipakai. Keyakinan hati masing-masing lah yang sebenarnya membedakan cinta. Aneh banget orang sekarang mengeluh cinta beda agama padahal sebenarnya dia lah yang nggak bener cinta tapi malah menjadikan agama sebagai tokoh utama penyebab kegagalan cintanya. 

Nanti, kalau kamu menemui cinta seperti ini coba kamu tanyakan apa benar dia mencintaimu. Jika dia jawab ya benar aku mencintaimu maka mintalah dia pergi. Kamu tau kan dia nggak akan bisa sama kamu karena kalian juga nggak mau kan disuruh pindah agama? Lebih baik kamu memintanya pergi daripada meminta pertemanan. Bilang padanya bukankah jika kamu benar mencintaiku, kamu akan membiarkan aku bahagia? meski bahagia ku enggak bisa sama kamu. Karena harusnya jika kamu mencintaiku, kamu akan menuruti apa mauku, kan?

Comments

Post a Comment

Popular posts 🌻

Kamu bosan? Aku nggak (1)

"aku capek" Kata itu keluar dari mulut kecilnya yang sontak membuatku berhenti berjalan dan terdiam sejenak. Aku bingung dengan pernyataannya. Rasanya seperti dihantam badai besar. Tubuhku lemas membayangkan kata perpisahan darinya. Ah pikiran ku terlalu jauh. Hari ini adalah hari pertama kami bertemu kembali setelah semalam kami bertengkar di depan kedai kopi langganannya. Aku bingung. Apakah dia capek karena sudah berjalan menyusuri tepi pantai cukup jauh atau dia capek dengan hubungan ini. "apalagi salahku sampai dia bisa berbicara seperti itu? apalagi? semalam aku sudah mengalah dan bahkan aku yang meminta maaf terlebih dulu padahal aku tau aku nggak salah" Banyak pertanyaan berkumpul di kepalaku yang seolah ingin membunuhku. "kita duduk dulu yuk, sunset nya lagi bagus" Lagi-lagi aku menahannya. Aku nggak mau bertengkar dengannya saat ini. Aku harus tetap tenang menghadapi manusia yang sangat aneh ini. Aku nggak mau kehilangan dia. N...