Skip to main content

Kamu bosan? Aku nggak (2)

Hari ini sangat melelahkan. Aku lagi sibuk menanam ulang tanaman-tanaman succulent ku yang tampak sudah tak terawat. Biasanya aku senang sekali dengan succulent ini tapi kini entah kenapa aku rasa nggak begitu senang dengannya. Nggak ada lagi hal yang menarik bagiku tapi meski begitu untungnya hatiku baik-baik saja. 
Seminggu sudah aku lewati tanpa Fadil. Kayanya gapapa deh. Sejauh ini aku masih hidup dan hidupku tetap berjalan normal nggak seperti yang aku bayangin kemarin. 

Aku pikir setelah pertemuan terakhir itu, akan berakhir pula seluruh isi bumi untuk ku. Tapi ternyata tidak. Sama sekali tidak. Lupain dia gampang, tapi lagi-lagi tidak dengan memori nya. Memang awalnya terasa berat banget buat lupain semua kebiasaan-kebiasaan manis dari hal-hal kecil yang dulu aku rasa itu tidak akan berakhir namun sebaliknya malah hal itu yang kini berakhir lebih dulu. 

"Kenapa bisa gini ya? Sedih juga kalau dipikir-pikir."


Tapi balik lagi, sekarang semua udah terjadi juga. Kaya nggak ada gunanya lagi buat aku stuck dalam lingkaran cinta yang kini tinggal aku sendiri didalamnya. No. This is not love. Aku harus tetap realistis. Apapun yang terjadi. Tapi, sayang, cinta tidak realistis. Cinta itu abstrak. Pikiranku saat ini tak terkendali. Aku kembali ke kamar meninggalkan succulent ku yang belum selesai.

"Kenapa aku masih memikirkan Fadil? Jelas-jelas dia meninggalkan aku. Kenapa aku masih nggak bisa lupain dia? Ini nggak adil. Hidup Fadil bisa tenang tanpa aku, tapi kenapa aku tidak tenang tanpa dia?! Apa yang salah padaku?!"

Aku, yang masih nggak menerima kenyataan kali ini jatuh. Tangan nakalku nggak bisa aku kontrol sama sekali. Sial. Foto-foto zaman SMA kini terpampang di depan mataku. Siapa sangka, mataku tak kunjung henti mengeluarkan deru air yang kalau aku tampung cukup untuk air minumku selama seminggu!!!

"Aku nyerah untuk melupakan Fadil. Mana mungkin sih aku bisa lupa. 4 tahun itu nggak sebentar"

Hidupku sudah cukup lama dengan Fadil. Fadil adalah teman, pacar, kakak, sekaligus cinta pertama ku. Fadil juga yang membuat ku kini punya teman karena dulu, seperti yang ku bilang, aku culun. 

Hidupku dulu hanya sebatas datang ke sekolah untuk belajar dan belajar. Orang yang ingin ku temui hanya guru. Tidak ada yang lain. Berteman sepi adalah aku. Nggak ada yang mau berteman dengan gadis culun, cupu, yang kacamatanya kuno pakai rantai pula. 

Aku kenal dengan Fadil karena waktu itu aku pernah ikut ekskul jurnalistik, ekskul yang Fadil pimpin. Fadil adalah kakak kelasku. Seperti gadis lainnya, siapa sih yang nggak grogi saat disamperin kakak kelas? 

"Han, jangan lupa minggu ini jadwal kamu piket ngatur mading sekolah, ya!"

Nggak. Aku sama sekali nggak menjawab perintahnya itu. Aku gugup setengah mati melihat kakak yang tampan itu bicara padaku.

"Hana, kamu kalau mau nanya apa-apa, jangan malu-malu ya, aku nggak makan orang kok"

Dan lagi-lagi. Aku nggak jawab. Ketua jurnalistik itu berbicara dengan ku. Aku diam namun kepalaku berisik memikirkan apa maksud yang Fadil sampaikan padaku karena waktu itu nggak ada orang yang bicara denganku selain Fadil. Ya. Fadil adalah siswa pertama yang bicara denganku. Yang berani bicara denganku lebih tepatnya.

Dari sanalah awal mula aku dekat dengan Fadil. Membawaku berubah menjadi gadis yang pandai bergaul. Nggak cuma ganti model kacamata. Aku berubah menjadi gadis SMA yang lumayan bergaya tapi masih berkacamata. Entah bagaimana awal perubahan itu aku sadari. Aku juga nggak tau.

"Han, nanti selesai rapat koordinasi kita makan yuk"

"Makan apa, kak?"

"Nggak panggil aku kakak, boleh?"

Aku diam. Pertanyaan yang kuberikan dibalas dengan pertanyaan lagi. Ini membuat ku canggung.

"Kamu boleh panggil aku kakak kalau lagi di sekolah aja ya, Han. Selain itu kamu nggak aku izinin manggil aku kakak! Oke ya"

Sejak itu, kedekatan ku dengan Fadil nggak lagi biasa. Ini bukan dekat antara kakak kelas dan adik kelas. Bukan. Jelas bukan. Dan benar saja

"Han, ngopi yuk"

"Aku harus pulang, Dil"

Tak dihiraukannya sanggahan ku dan malah membonceng ku dengan motor keren yang akupun nggak ngerti ini gimana cara naiknya. Malu banget waktu itu. Kau tahu? Fadil nembak aku diparkiran kedai kopi! ah aku nggak mau mengingat bagian itu. Pas baru masuk kedai kopi langganannya itu, Fadil langsung disapa banyak orang. AKU MALU BANGET WOI. Aku nggak tau harus ngapain disana. Semua orang disana nyapa Fadil tapi tidak dengan aku. Mungkin mereka nggak tau aku siapa. Jelas saja, ini pertama kali aku berkunjung ke kedai kopi. Fadil ngajak aku duduk dipojokan kedai, meja 07 tepatnya. Aku ikut duduk bersama dengan Fadil dengan banyak mata yang tertuju padaku.  Kurasa mereka heran kenapa aku yang dibawa Fadil. 

"Gak apa-apa, santai aja. Nanti juga terbiasa"

"Iya"

Waktu itu aku udah jadi pacarnya lho. Tapi kenapa sikapnya sama saja. Apa dia nggak mau kenalin aku ke teman-temannya ya? Ahh aku selalu saja begitu. Overthinking

Hari itu adalah hari paling menyenangkan bagiku. Nano-nano. Itu seperti hari pertama aku hidup sebagai remaja yang kata orang kisah cintanya dimulai saat masa-masa sekolah. Karena ini pertama kalinya aku 'nongkrong' aku nggak tau minuman apa yang harus aku pesan. Cara pesannya pun aku nggak tau. Nggak. Aku nggak boleh bikin kesalahan lagi. Udah cukup bikin malunya jangan sampai aku juga bikin Fadil malu didepan teman-temannya. 

"Kamu mau minum apa, Han?"

Kan. Aku bingung tapi harus bersikap biasa saja. Memutar otak bagaimana cara aku tau minuman apa yang ada disini sedangkan nggak ada buku menu sama sekali. 

"Hm, aku ngikut aja, Dil"

"Kamu yakin? Aku pesan Expresso lho?"

"Iya, aku juga suka itu"

Kau tau? Aku nggak tau apa itu Expresso yang sedang aku pesan ini. Bayangan ku, ini seperti kopi biasa yang dibuat ibu untuk ayah sebelum berangkat kerja. Tapii, wleeekk bukan. Ini bukan kopi biasa. Pahit bangett. Aku nggak tau gimana cara menyembunyikan ekspresi ku waktu itu.

"Hahaha, pahit ya? Namanya juga Expresso. Kamu suka kan?"

"Hm iya suka hehe"

Aku bohong lagi dan kayanya Fadil tau aku bohong.

"Gak apa-apa kok kalau kamu mau pesan minuman lain"

Hari itu akhirnya aku minum susu kocok yang manis yang tentu saja sangat jauh berbeda dengan minuman Fadil. Ah kayanya aku udah cukup banyak bercerita tentang Fadil. Meskipun itu baru permulaan aku pacaran dengannya hahaha. 

Malam ini aku mau dengerin podcast galau tapi yang bercerita tentang move on. Aku memang harus move on dari Fadil. Harus!. Biar saja kenangan 4 tahun itu. Aku nggak mau usik. Aku mau move on aja, toh siapa tau dengan aku move on Fadil akan menyesal. Hahaha jauh ya pikiranku. 

Setelah berminggu-minggu berlalu. Kayanya move on ku udah berhasil. Aku udah jarang menangis meratapi kisah ku yang menyedihkan ini. Tapi ya, mana mungkin aku bisa lupa, ia adalah orang yang bersamaku sejak lama. Gak apa-apa, nanti juga terbiasa, kataku.
Seperti biasanya, setiap pagi aku buka handphone buat cek pesan-pesan apa yang ada di hp ku. Aku baca satu pesan dari nomor yang nggak dikenal yang ternyata pesan itu membuat pagiku tidak karuan.

"Hai, apa kabar, Han?"




Comments

Popular posts 🌻

Kamu bosan? Aku nggak (1)

"aku capek" Kata itu keluar dari mulut kecilnya yang sontak membuatku berhenti berjalan dan terdiam sejenak. Aku bingung dengan pernyataannya. Rasanya seperti dihantam badai besar. Tubuhku lemas membayangkan kata perpisahan darinya. Ah pikiran ku terlalu jauh. Hari ini adalah hari pertama kami bertemu kembali setelah semalam kami bertengkar di depan kedai kopi langganannya. Aku bingung. Apakah dia capek karena sudah berjalan menyusuri tepi pantai cukup jauh atau dia capek dengan hubungan ini. "apalagi salahku sampai dia bisa berbicara seperti itu? apalagi? semalam aku sudah mengalah dan bahkan aku yang meminta maaf terlebih dulu padahal aku tau aku nggak salah" Banyak pertanyaan berkumpul di kepalaku yang seolah ingin membunuhku. "kita duduk dulu yuk, sunset nya lagi bagus" Lagi-lagi aku menahannya. Aku nggak mau bertengkar dengannya saat ini. Aku harus tetap tenang menghadapi manusia yang sangat aneh ini. Aku nggak mau kehilangan dia. N...

Beda

"Ayo cepat! Larii, hahahhaha" Bahagianya Zico yang meneriaki aku dari jauh. Terlihat dia begitu bahagia dan tentu saja aku juga sangat bahagia dengan laki-laki tinggi berambut gondrong ini. Aku senang dengan Zico meski kami nggak ada hubungan spesial. Aku selalu bersama Zico, entah kenapa akhir-akhir ini setiap kegiatan aku selalu bersamanya sampai-sampai banyak orang yang mengira kalau aku dan Zico berpacaran. Apa mereka nggak tau kalau itu nggak akan mungkin terjadi? Hal yang cukup mustahil dalam hubungan ini. "Udah ah, aku capek" "Baru 2 putaran udah capek, cemen kamu Fi" Begitulah Zico, suka banget ngeledek aku bahkan kadang suka kelewatan tapi kenapa ya aku nggak pernah marah kalau diledekin dia? Zico emang beda banget dari teman-temanku yang lain .  Setiap Sabtu sore aku selalu nemenin dia lari di gor pusat, Zico suka banget olahraga dan kayanya dia bisa semua cabang olahraga deh. Kadang dia bisa olahraga seharian, paginya...