Skip to main content

Kamu bosan? Aku nggak (1)


"aku capek"

Kata itu keluar dari mulut kecilnya yang sontak membuatku berhenti berjalan dan terdiam sejenak. Aku bingung dengan pernyataannya. Rasanya seperti dihantam badai besar. Tubuhku lemas membayangkan kata perpisahan darinya. Ah pikiran ku terlalu jauh.

Hari ini adalah hari pertama kami bertemu kembali setelah semalam kami bertengkar di depan kedai kopi langganannya. Aku bingung. Apakah dia capek karena sudah berjalan menyusuri tepi pantai cukup jauh atau dia capek dengan hubungan ini.

"apalagi salahku sampai dia bisa berbicara seperti itu? apalagi? semalam aku sudah mengalah dan bahkan aku yang meminta maaf terlebih dulu padahal aku tau aku nggak salah"

Banyak pertanyaan berkumpul di kepalaku yang seolah ingin membunuhku.

"kita duduk dulu yuk, sunset nya lagi bagus"

Lagi-lagi aku menahannya. Aku nggak mau bertengkar dengannya saat ini.
Aku harus tetap tenang menghadapi manusia yang sangat aneh ini. Aku nggak mau kehilangan dia. Nggak akan mau.
Suasana pantai saat itu jadi sangat dingin bersamaan dengan dinginnya sikap Fadil padaku.

"Oh ya kamu capek kenapa, Dil?"

"Kita"

"Kita?"

Fadil tidak menjawab pertanyaan itu. Bahkan tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya sampai dia mengantarku ke depan gerbang rumah. Aku nggak tau apakah itu akan jadi pertemuan terakhir ku dengannya atau tidak. Aku tidak mengerti. Sungguh.
Malam itu aku merasa bahwa aku secara tidak langsung telah ditinggalkan olehnya. Nggak ada kata perpisahan atau bahkan ucapan selamat malam seperti yang biasa ia sampaikan setelah mengantar ku pulang pun tidak ada.

 "Kenapa bisa berubah begitu cepat? Kenapa bisa begitu jahat? Kenapa baru sekarang?"

Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Malam itu aku tidur dengan ribuan bayang-bayang kelam yang menghantui. Pikiran buruk hinggap dan kacaunya ia nggak mau lepas. Aku sungguh tidak bahagia.

Pagi ini sangat berbeda. Tidak lagi kutemui Fadil di depan gerbang kampus seperti yang biasa ia lakukan menunggu ku datang. Aku semakin yakin bahwa kejadian malam itu adalah pesta perpisahan darinya. Hubungan yang telah aku pertahankan sejak SMA itu berakhir tak karuan. Tak ada kata perpisahan. Tak ada kata selamat tinggal. Aku nggak terima rasanya ditinggal begitu saja. Aku nggak tau dimana salah dan kurang ku.

 "Apa pria itu tidak menyukai ku lagi? Ah mana mungkin. Dia bukan pria yang memandang fisik seperti itu."

Rasanya salah paham malam lalu tak seberapa parah dari yang biasanya, tapi masa iya dia meninggalkan ku hanya karena kejadian di kedai kopi itu?
Sekarang aku harus cari dia kemana? Tidak ada satu tempat pun di kampus ini yang Fadil sukai. Aku sempat berpikir untuk menemui Fadil nanti siang di kedai kopi tapi apa ini tidak berlebihan? Kan aku cewek. Masa mau nyusul cowok duluan. Ah pikiran aneh itu muncul lagi.

"Aku gamau kehilangan Fadil begitu aja, terserah orang bilang apa. Pokoknya aku harus ke kedai kopi siang nanti. Aku harus tau apa alasan Fadil meninggalkan ku. Kenapa dia pergi begitu saja?!"

Tekad ku untuk ke kedai kopi memang besar tapi itu tidak beriringan dengan nyali ku kali ini. Aku sudah di kedai kopi. Fadil duduk di meja 07 seperti biasa dengan kopi Expresso kesukaannya.

"Aku harus gimana ini? Fadil memang duduk sendiri tapi aku tetap tidak sanggup menghampirinya"

Cukup lama aku berdiri. Berdiri dengan beribu pikiran yang tak karuan.

"Fadil sudah melihat ku berada disini, tapi dia tak memberi respon sedikit pun. Kurang ajar sekali dia. Aku harus berani kali ini. Dia sungguh keterlaluan"

Baru saja aku mau duduk di kursi sebelah kanan nya, ia langsung menutup laptop dan berdiri.

"Maaf, aku buru-buru"

"Apa maksud mu? Aku sudah menunggu dari tadi dan sekarang kamu bilang buru-buru?"


Fadil berlalu begitu saja tanpa menghiraukan aku. Ah lagi lagi aku kalah. Hari itu menjadi hari terakhir aku bertemu dengan Fadil. Entah aku akan bertemu lagi dengannya entah tidak. Mungkin sudah cukup aku memperjuangkan Fadil yang ternyata tidak ingin diperjuangkan. Aku nggak menyangka akan begini jadinya, bagaimana aku tanpa Fadil yang jelas-jelas sudah bersama ku sejak dulu? Kayanya aku nggak akan sanggup. Ini berat. Sungguh...


Comments

Popular posts 🌻

Beda

"Ayo cepat! Larii, hahahhaha" Bahagianya Zico yang meneriaki aku dari jauh. Terlihat dia begitu bahagia dan tentu saja aku juga sangat bahagia dengan laki-laki tinggi berambut gondrong ini. Aku senang dengan Zico meski kami nggak ada hubungan spesial. Aku selalu bersama Zico, entah kenapa akhir-akhir ini setiap kegiatan aku selalu bersamanya sampai-sampai banyak orang yang mengira kalau aku dan Zico berpacaran. Apa mereka nggak tau kalau itu nggak akan mungkin terjadi? Hal yang cukup mustahil dalam hubungan ini. "Udah ah, aku capek" "Baru 2 putaran udah capek, cemen kamu Fi" Begitulah Zico, suka banget ngeledek aku bahkan kadang suka kelewatan tapi kenapa ya aku nggak pernah marah kalau diledekin dia? Zico emang beda banget dari teman-temanku yang lain .  Setiap Sabtu sore aku selalu nemenin dia lari di gor pusat, Zico suka banget olahraga dan kayanya dia bisa semua cabang olahraga deh. Kadang dia bisa olahraga seharian, paginya...