Skip to main content

Pernah (3)


Siang itu aku nggak kembali lagi ke kelas. Aku pulang.

Kau mungkin tidak tau rasanya jadi aku atau aku harus jelaskan padamu? Ah aku juga nggak ngerti sebenarnya. Apalagi kamu, kamu nggak akan ngerti.

Aku duduk di jendela kamar sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah kejadian itu. Disini sepi dan sunyi tapi di kepalaku ramai dan berisik.  Apa salahnya aku dekat dengan Roby? Aku hanya berteman dekat. Jika Ivan tidak membiarkan aku berteman dekat dengan laki-laki lain, apa maksudnya itu dia cemburu? Tapi apa harus cemburu dengan Roby yang juga temannya sendiri? Ivan berhasil banget membuat lamun ku kali ini begitu lama.

Lalu jika Ivan cemburu berarti dia merasa kalau keberadaannya tergantikan dong ya? Gila. Dia cemburu karena aku dekat dengan temannya tapi apa dia nggak sadar bagaimana perasaan aku waktu dia jadian sama Hanifa? Ternyata sekali aneh akan tetap aneh.

Aku dekat dengan Roby tapi ya hanya sebatas teman dekat saja, tidak ada rasa meski aku ingin sekali membuka hati untuk Roby. Tapi perasaan ku pada Ivan yang nggak bercanda ini benar-benar membuat aku kesulitan menerima kehadiran Roby walau aku sudah berusaha.

Keesokan harinya aku datang ke sekolah dan tentu saja dengan harapan Ivan nggak lagi ikut campur dengan urusan ku. Karna bagiku Ivan nggak punya hak untuk itu, lagi.
 
"Kenapa sih Sal? Ada yang salah ya? Coba beri tahu aku, biar aku bisa memperbaikinya Sal" Ivan duduk di kursi sebelah ku sambil berusaha untuk melihat wajahku.

"Nggak ada, kamu ngapain sih! Jauhan dikit! Nanti Hanifa marah sama aku!" Duh aku gugup sebenarnya, aku dan Ivan nggak pernah begitu, terlihat seperti sepasang kekasih yang lagi bertengkar.

"Kamu cemburu aku sama Hanifa, Sal? statusku sama Hanifa memang pacaran tapi itu tidak lebih penting dari pertemanan kita. Aku lebih memilih putus dengan Hanifa daripada aku harus beneran jauh sama kamu" Ivan kembali memperbaiki duduknya seolah ingin bicara lebih serius dengan aku.

"Nggak, aku nggak cemburu. Kamu temanku dan aku juga temanmu. Jadi kalau kamu punya pacar, ya aku mau ada jarak diantara kita, Van. Aku nggak mau menyakiti hati Hanifa karna untuk melihat kekasih berdekatan dengan teman perempuannya itu rasanya sungguh sakit, Van. Dan aku nggak mau jadi duri dalam hubungan kalian. Tolong kamu mengerti bagaimana posisi aku." 
Kalimat panjang yang aku sampaikan meski harus menahan air mata karna sebenarnya aku ingin sekali memberi tau Ivan kalau memang benar aku cemburu.

"Baik, Sal. Maaf aku sudah mengganggu mu"

Ivan beranjak dari kursi dan kembali duduk ke kursinya. Aku diam saja tidak lagi melanjutkan perkataan ku. Aku nggak salah dong, memang benar begitu kan? Toh dia dan Hanifa benar berpacaran. Soal Roby, yang tidak sempat terbahas, mungkin Ivan sudah menerima atau... sudah tidak peduli.

Padahal aku berharap agar aku dan Ivan akan tetap berteman setidaknya sampai akhir SMA. Karna sulit rasanya untuk berada di satu tempat bersama tapi keberadaan ku seperti tidak dianggap. Aku merasa dibuang dari dunianya dan tidak lagi diizinkan masuk. Heran sekali aku dengan dia. Entah seperti apa bentuk aku didalam kepalanya itu. Atau mungkin dia nge-mute aku dari hidupnya? Ah harusnya aku yang begitu bukan? Harusnya aku yang marah tapi ya sudahlah. Aku harus tetap sekolah walau kelas ini tidak lagi menyenangkan.

Tiga bulan setelah drama pertemanan aku dengan Ivan berlalu, akhirnya kami berpisah. Farewell party kata orang-orang. Tapi, apa harus sebuah perpisahan mendapatkan pesta yang meriah? Tidak perlu dijawab, nikmati sajalah. Aku datang ke sekolah sendiri, jangan kau tanya dimana Roby! Aku tidak bersama dia. Nanti akan aku jelaskan kenapa. Oh ya, belum sampai dua jam aku menghadiri pesta perpisahan ini tapi aku udah pengen pulang. Aku pengen pulang karna... Ya karena aku nggak sanggup untuk melihat Ivan dengan Hanifa yang kayanya asik banget joget-joget kayak lagi nonton konser aja. Mereka seperti menikmati keramaian itu. Aku? Bagaimana aku bisa menikmati, malah kalau lebih lama lagi aku disana mungkin aku bisa mati berdiri. Mati saja. Seluruh tubuh ku capek bekerja.

Daripada aku mati dan akupun belum mau mati sekarang, aku pulang. Aku menghilang dari keramaian yang membuat hatiku kesal karena suasana ramai namun dia kesepian. Duh.

Oh iya, kau mau tau bagaimana aku dengan Roby ya? Akan ku ceritakan sedikit: jadi, ingat waktu aku dan Ivan berdebat sampai aku nggak masuk kelas lagi? Ya, waktu itu Roby juga ada disana. Dia melihat semuanya dan dia diam saja nggak memberi respon apapun, bahkan dia nggak menghubungi aku atau setidaknya menanyakan kemana aku saat itu. Dia berubah menjadi dingin, sangat dingin, terlalu dingin. Aku yang belum sempat menerima kehadirannya merasa seolah aku udah kehilangan dia. Aku juga nggak mau memulai percakapan dengan Roby karna aku takut kalau dia mengira aku kembali mendekatinya. Aku takut nanti Roby mengira kalau dia hanya pelarian. Bukankah hilang, diam, tak bersisa lebih baik daripada penjelasan yang rumit? Atau sebaliknya? Ah sudahlah pokoknya semua sudah selesai. Benar-benar selesai. Dua manusia ini hadir dalam kisah SMA ku, ya cuma hadir. Datang saja tak menetap. Tak sempat mungkin.

Beberapa bulan setelah farewell party yang tidak menyenangkan itu, tidak ada pula lanjutan komunikasi antara aku, Ivan, ataupun Roby. Aku memilih untuk tidak mengetahui kabar mereka. Bahkan aku keluar dari grup kelas yang katanya grup itu pertanda pertemanan akan bertahan lama. Berlebihan memang, tapi tak apa. Aku lebih baik begitu daripada kembali mengenal Ivan dan Roby. Ivan yang kurasa telah menyakiti aku dan Roby yang kurasa telah aku sakiti. Andai kalian baca cerita ini, maaf ya... Hehe


****


Aku melanjutkan hidup dan itu tentu saja sebuah keharusan. Aku melanjutkan pendidikan ke universitas swasta di Melbourne, Australia. Jauh bukan? Entahlah kenapa aku bisa sampai di Australia padahal jelas saja separuh aku tak bisa jauh dari Indonesia. Tapi dengan berada jauh dari Indonesia, aku mulai membaik. Aku hampir sembuh. Bagaimana tidak,  aku berada jauh dari orang-orang yang dulu pernah ada didalam kehidupan aku, kehidupan masa SMA yang indah kata orang tapi tak begitu indah bagiku.


Tak perlu rasanya untuk aku ceritakan bagaimana cara sembuh ku karena aku tau nanti kamu juga akan sembuh, toh cara setiap orang untuk sembuh berbeda-beda bukan? Hanya saja, kamu perlu berlapang dada untuk menerima semuanya, menerima semua kejadian yang bahkan tak sempat termimpikan akan terjadi. Menerima saja sudah cukup, tidak perlu mengusik yang lain lagi atau bahkan meminta maaf demi menyelamatkan 'hubungan baik' yang nyatanya tidak begitu baik. Semoga saja kamu segera sembuh, ya!


Oh ya, sekarang aku udah wisuda. Cepat bukan? Tapi tentu saja hari-hari untuk mendapatkan gelar sarjana dengan waktu yang singkat sangatlah sibuk, sibuk sekali. Kayanya dengan kesibukan baru ku yang benar-benar sibuk ini lah yang membuat aku bisa perlahan lepas dari bayang-bayang kenangan SMA ku, sampai pada minggu lalu undangan reunian sampai ke apartemen ku. Undangan yang mengatakan bahwa akan ada pertemuan penuh rindu. Akan ada pertemuan untuk mengenang kisah yang tak sempat diselesaikan atau bahkan pertemuan untuk memastikan bahwa memang benar kita sudah berpisah(?)

Berhubung kuliahku juga udah selesai dan memang sudah jadwalnya untuk pulang, aku berencana untuk datang. Masih rencana bahkan sampai H-1 aku masih mikir-mikir mau datang atau nggak. Tapi ya akhirnya aku tetap datang, datang saja... sendirian.


***


Sebenarnya aku nggak mau hadir di acara reunian ini, ya karna kisah dulu itu lho. Tapi kayanya aku terlalu lebay jika tidak datang hanya karna satu atau dua orang yang aku takutkan bisa mengusik kotak  kenangan kecil yang kini sudah aku simpan baik-baik di dalam salah satu sudut di otakku. Sudah sekitar setengah jam aku berada disini dan masih saja belum ada percakapan antara aku dengan Ivan. Oh ya, Roby nggak datang nggak tau deh kenapa. Dia hebat banget sekarang kayanya, sibuk terus. Hmm ya begitu saja cerita SMA ku. Aneh...


***


Kamu tahu kan kalau perasaan tidak main-main? Jadi, tidak ada salahnya jika kamu jujur tentang perasaan yang kamu punya itu. Sampaikan saja, siapa tau dia juga begitu padamu. Tapi jika tidak, ya tak apa. Bukankah mencoba dan mengetahui hasilnya lebih baik daripada tidak sama sekali? Bukan kan 'pernah' lebih baik daripada 'nggak tau'?
-Salsa kepada Salsa, setelah (hampir) 4 tahun berlalu.


Comments

Popular posts 🌻

Kamu bosan? Aku nggak (1)

"aku capek" Kata itu keluar dari mulut kecilnya yang sontak membuatku berhenti berjalan dan terdiam sejenak. Aku bingung dengan pernyataannya. Rasanya seperti dihantam badai besar. Tubuhku lemas membayangkan kata perpisahan darinya. Ah pikiran ku terlalu jauh. Hari ini adalah hari pertama kami bertemu kembali setelah semalam kami bertengkar di depan kedai kopi langganannya. Aku bingung. Apakah dia capek karena sudah berjalan menyusuri tepi pantai cukup jauh atau dia capek dengan hubungan ini. "apalagi salahku sampai dia bisa berbicara seperti itu? apalagi? semalam aku sudah mengalah dan bahkan aku yang meminta maaf terlebih dulu padahal aku tau aku nggak salah" Banyak pertanyaan berkumpul di kepalaku yang seolah ingin membunuhku. "kita duduk dulu yuk, sunset nya lagi bagus" Lagi-lagi aku menahannya. Aku nggak mau bertengkar dengannya saat ini. Aku harus tetap tenang menghadapi manusia yang sangat aneh ini. Aku nggak mau kehilangan dia. N...

Beda

"Ayo cepat! Larii, hahahhaha" Bahagianya Zico yang meneriaki aku dari jauh. Terlihat dia begitu bahagia dan tentu saja aku juga sangat bahagia dengan laki-laki tinggi berambut gondrong ini. Aku senang dengan Zico meski kami nggak ada hubungan spesial. Aku selalu bersama Zico, entah kenapa akhir-akhir ini setiap kegiatan aku selalu bersamanya sampai-sampai banyak orang yang mengira kalau aku dan Zico berpacaran. Apa mereka nggak tau kalau itu nggak akan mungkin terjadi? Hal yang cukup mustahil dalam hubungan ini. "Udah ah, aku capek" "Baru 2 putaran udah capek, cemen kamu Fi" Begitulah Zico, suka banget ngeledek aku bahkan kadang suka kelewatan tapi kenapa ya aku nggak pernah marah kalau diledekin dia? Zico emang beda banget dari teman-temanku yang lain .  Setiap Sabtu sore aku selalu nemenin dia lari di gor pusat, Zico suka banget olahraga dan kayanya dia bisa semua cabang olahraga deh. Kadang dia bisa olahraga seharian, paginya...