Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kisah sebentar

Tidakkah kau rindukan aku?

 Ini hari ke tujuh aku berada di rumah. Liburan harusnya. Tapi entah kenapa sulit merasakan bahagia akhir-akhir ini. Kalau dipikir-pikir lagi, harusnya aku bisa bersenang-senang menikmati hari libur karna yaa, hari-hari kerja sungguh membuat pusing.  Pagi tadi mendung. Aku tidur sampai pukul satu. Liburan ku hanya tidur, menonton Drakor, makan mie instan, dan gojek-in Boba tentunya. Sebenarnya aku tidak suka, tapi entahlah sejak di rumah saja aku jadi begitu pemalas.  Pagi hingga sore aku lalui tanpa bicara dengan siapapun, tidak sepatah kata yang keluar dari mulutku. Biasanya kita telponan, ya? Malam harinya aku habiskan dengan marathon Drakor yang membuat emosi ku menjadi tidak stabil. Bahagia, kesal, dan sedih semuanya bergantian memenuhi perasaan ku. Begadang dengan Drakor saja akhirnya. Biasanya kita telponan lagi, kan? Kamu apa kabar disana? Sudah lupa aku ya?  Aku harap kamu masih membaca blog ku, karna aku hanya ingin kamu tau keadaan ku. Aku mau bilang aku b...

bentar, lagi move on

Dulu aku pikir, kamu adalah orang yang tepat. Kamu itu ada setelah sekian lama aku sendiri, setelah hampir saja aku tidak mempercayai cinta lagi. Yaa walau banyak drama yang kita hadapi, tapi aku pernah seyakin itu sama kamu. Aku yakin kalau kamu itu memang udah ditakdirkan untuk aku. Gimana nggak berpikir begitu coba, kita sering salah paham dan endingnya kita baikan lagi kan? Endingnya kita ketawa lagi kan?. Eh tapi itu dulu sih, sekitar beberapa minggu lalu sampai akhirnya sekarang benar-benar sudah tidak ada lagi 'apa kabar?' diantara kita.  Aneh yaa, aku pikir kisah cinta memang begitu, ada selisih paham dan lain-lain yang mungkin sangat sepele. Aduuuh, kok aku mikir kejauhan ya. Lupa kalau dari awal memang tidak ada kata 'kita'. Ah, kamu dan aku cuma dekat. Ya cuma. Nggak tau sih, ini kamunya yang takut mengutarakan atau aku aja yang kepedean. Ah anehh. Oh iya, temanku pernah bilang kok kalau katanya kamu memang mau serius sama aku. Duh lagi-lagi ini salah aku. N...

katamu kita tidak akan berpisah

Hei, kok bisa ya semuanya berubah begitu saja? Aneh ya. Kamu adalah orang yang aku kenal sejak lama. Namun sekarang kamu bukan kamuku lagi. Kamu bukan kamu yang aku kenal , dulu. Aku bingung harus apa, sayang. Maaf aku masih memanggil mu sayang, anggap saja yang terakhir kalinya. Katamu kita tidak akan berpisah. Tapi nyatanya... Kamu meninggalkan aku dengan tanpa. Tanpa rasa bersalah, tanpa sedih, dan tanpa rindu yang tersisa walau sedikitpun -tidak ada. Aku harusnya tidak percaya dengan kata-kata mu. Atau mungkin harusnya aku bisa memilih perkataan mu, memilih mana yang harus aku percaya dan yang harus aku abaikan saja. Harusnya kata-kata manis mu itu aku abaikan saja, ya? Harusnya aku tidak mudah percaya, ya? Ah banyak sekali kesalahan ku selama dengan mu. Tapi terimakasih ya, aku belajar banyak. Banyak sekali... Hei, sekarang kamu sudah benar-benar bebas lho. Aku sudah menerima kalau kita berpisah, walau belum lama sih. Oh ya, aku sekarang jadi terlalu pemilih (kata ...

selamat tinggal

Ini sudah cukup lama sejak kepergian mu. Aku mulai menyadari bahwa perpisahan dengan mu memang bukanlah yang ku inginkan. Aku juga menyadari bahwa bukan lagi aku bahagia mu. Aku tau. Tapi rela belum menghampiri ku. Melihat kamu dari sosial media ku masih saja menjadi favorit ku. Dan melihat fotomu dengan dia yang baru masih saja menjadi patah terfavorit ku. Aku rasa dengan berjalan nya waktu aku bisa melupakan mu. Tapi sayang, itu belum juga. Sebentar lagi SMA ku habis, namun belum kutemui seseorang yang menjadi bagian cerita ku. Ah sial, cerita ku masih saja kamu. Dari dulu tetap saja kamu. Kamu yang seharusnya mudah dilupakan. Kamu yang seharusnya mudah digantikan. Namun malah sebaliknya. Patah hatiku harusnya membuat ku mudah membencimu. Harusnya. Tapi ini tidak begitu. Hmm hidupku memang bukan cuma tentang cerita seseorang. Tapi siapa yang tidak mau punya cerita masa sekolah bukan. Sepertinya sekarang aku mau keluar dari lingkaran cerita tentang kamu, meski disana cuma ...

surat dari mu, terimakasih

Penggalan cerita ini dari dia, dia yang sempurna untukku. Aku tau dia tidak akan mengunjungi blog ini makanya aku mau menulis ini. Aku dan dia hanya berteman, tidak lebih, tidak akan lebih. Aku mengaguminya. Hanya itu. Mungkin kadang sempat ingin untuk memiliki tapi bersyukur keinginan itu bisa selalu terpatahkan. Entah sikap dia yang berubah atau dari pikiran ku sendiri. Salah seorang teman ku juga mengetahui perasaan ku padanya ini. Sempat juga dia "comblang"-in aku, tapi ya begitulah. Aku terlalu malu. Aku malu saja mengakui perasaan ini. Aku nggak mau dong kehilangan dia kalau dia tau bahwa aku menyimpan sedikit rasa padanya. Oh ya, dulu aku sering bersamanya. Senin-Minggu. Selalu bersama. Mungkin karna itu juga tumbuh sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan untuk ada. Sekarang entah harus sedih atau bahagia aku juga tidak tau. Sedih karna dia akan melanjutkan pendidikan ke selatan dan aku harus tinggal di Utara, atau juga bahagia karena aku tidak akan bertemu dengan dia...

bukan aku

Aku masih saja tidak mengerti apa mau mu. Kemarin, kamu seperti sangat menginginkan aku seolah kamu tidak mau kehilangan aku. Tapi hari ini, sungguh berbeda. Apa besok kamu akan baik lagi? ah kamu selalu saja begitu. Apa kamu pikir aku ini layangan? yang bisa kamu tarik ulur sesuai angin yang ada. Kamu itu tidak jelas. Entah ingin berusaha untuk bersamaku atau hanya ingin bermain-main dengan ku. Sebenarnya bisa juga aku bersikap seperti itu padamu, tapi aku tidak mau saja melihat mu terluka karena aku. Karena jika aku balas dendam, sakit hatimu mungkin tidak ter-sembuh-kan. Jadi sepertinya sekarang, biarkan saja aku dengan hidup ku dan urus saja dirimu sendiri. Aku tidak bisa bersama seseorang yang bahkan untuk menentukan hidupnya sendiri pun belum mampu. Karena kalau kamu berharap pada ku, berharap aku bisa menyelesaikan masalahmu, sebaiknya aku katakan terus terang bahwa aku tidak mampu. Mungkin kamu pikir aku jahat atau kejam tapi tidak apa, lebih baik begitu. Semoga kam...