Skip to main content

Pernah (1)

Halloo. Apa kabar semuanya?  Ivan datang dengan senyum yang merekah dibibirnya padahal dia tau dia udah telat. Nggak ada basa-basi lain, dia mengambil kursi dan asik aja langsung nimbrung dengan teman yang lain. Disapanya semua orang yang ada disana sampai-sampai pegawai cafe pun tak lepas dari sapaannya.  Datangnya Ivan menambah warna acara reuni SMA 48 kali ini. Terlihat dari sikapnya jelas terlihat bahwa Ivan adalah seorang yang humoris dan ramai. Nggak mungkin kan kalau anak pendiam mau nyapa semua orang di cafe bahkan orang lain yang nggak dia kenali.


Oh ya, namaku Salsa, aku mau cerita sedikit nih tentang kisah zaman SMA ku. Ada hubungannya juga kok sama Ivan hahaha, tapi nggak mungkin kan aku langsung menceritakan bagaimana akhirnya? Lucu dong kalau setiap penulis langsung menceritakan akhir ceritanya setelah prolog? Tapi kisahku dengan Ivan nggak banyak-banyak juga sih, cuma cukuplah pelajaran yang aku dapat darinya.

Dulu aku itu sasaran empuk kelakuan jahil nya Ivan karna aku nerima aja perlakuannya dan  nggak suka memberontak gitu kalau dijahili. Tapi sebenarnya aku senang kok karna jahilnya Ivan tuh nggak bikin kesal tau, malah lebih bikin baper.

Aku juga pernah dekat dengan Ivan karena dia suka banget gangguin aku dan aku juga nggak terlalu mempermasalahkan hal itu. Waktu SMA aku duduk di depan Ivan, selalu. Entah kenapa dari kelas 1 sampai kelas 3 aku terus duduk di depan dia, nggak tau deh entah ini permintaannya atau emang kebetulan aja tapi yang jelas aku senang bisa terus didekatnya, nyaman banget pokoknya kalau dia ada disekitar ku.

"Sal, geser ke depan dikit dong. Sempit nih"

"Depan mana lagi sih! Ini udah deket meja guru, Van!"

Ivan kaya nggak bisa hidup kalau nggak berdebat dengan aku. Dalam sehari aja dia pasti memaksimalkan waktu untuk berdebat dengan ku yang kadang aku cuek aja, nggak meladeni permainan nya. Dalam satu jam aja hampir tiap menit dia mencari konflik dengan ku. Entah darimana sumber idenya akupun nggak tau.

Meski Ivan nyebelin, kok bisa ya aku suka sama Ivan

Ya, aku suka dengan Ivan dan itulah alasan ku nggak pernah memberontak jika dijahili nya. Aku senang aja digituin. Tapi Ivan nggak boleh tau kalau aku suka sama dia, kalau sampai dia tau, seluruh isi sekolah pun pasti akan tau. Mulutnya ember banget. Dia adalah orang ter-PD se sekolahan. Pernah juga dia pamer kalau dia dapat nilai sempurna untuk ulangan kimia sampai-sampai satu sekolah bilang kalau dia itu manusia yang haus pujian. Padahal menurut ku dia cuma mau berbagi kebahagiaan aja gitu, kan nggak ada salahnya juga toh dia juga berusaha untuk mendapatkan nilai itu.

"Sal, nanti pulang sekolah temenin aku ke toko buku ya"

"Mau ngapain kamu?"

"Menyewa pesawat tempur"

"Bodo ah. Aku males"

"Lagian pertanyaannya nggak berbobot, mau ngapain lagi sih biasanya orang ke toko buku?"

Lihatkan? Dari cara bicaranya saja udah menggambarkan kalau dia itu cerewet. Waktu ke toko buku itu, aku sedikit deg-degan karna bingung nanti mau ngapain sama Ivan. Ini pertama kali aku pergi dengan Ivan keluar lingkungan sekolah.

"Sal, bukunya bagus-bagus. Kamu kalau mau ambil aja ya"

"Kamu yang bayarin?"

"Ya nggak lah, bayar sendiri-sendiri wlee"

"Kamu ngapain nawarin aku tadi? Aku pikir kamu mau bayarin"

"Eh nggak usah berekspektasi deh, Sal. Kamu pikir aku cetak duit apa hah?"

Kan... Lagi-lagi berdebat. Dia terus mengomel tentang buku yang dia lihat. Dari sekian banyak buku yang Ivan pegang dan dari sekian lama waktu yang terbuang untuk menemaninya membeli buku ini, Ivan cuma beli satu buku. Iya cuma satu dan itupun buku teka-teki silang.

"Aku menghabiskan banyak waktu untuk menemani kamu membeli satu buah buku TTS?! Apa kamu mau mempermainkan aku? Ada banyak hal yang bisa aku lakukan selain menunggumu membeli TTS 5000an itu, Van!"

"Tadi kan aku bilang mau membeli buku, dan kamu juga setuju mau menemaniku. Kenapa sekarang protes? Ya terserah aku dong mau beli buku apaa"

Nggak pernah menang aku berdebat dengan manusia aneh ini. Memang lebih baik aku diam saja.

"Kamu aku antar sampai sini aja ya, Sal. Kamu harus banyak jalan biar kurus"

"Apa kamu gila?! Nggak. Aku nggak mau turun"

"Ayolah, kapan lagi kamu mau jalan kaki. Ini udah dekat kok"

"Ivan, aku udah capek nemenin kamu belanja dan sekarang kamu suruh aku jalan?! Aku nggak suka becandaan yang kaya gini"

"Aku nggak becanda Sal, nggak apa-apa kok jalan sedikit. Ayoo Salsa kamu pasti bisaa"

Siapa sangka dia benar-benar menurunkan aku di gerbang komplek yang kalau aku jalan butuh waktu sekitar 10 menitan. Aku juga heran kenapa aku mau aja jalan kaki. Kayanya waktu itu aku udah dihipnotis. Bodoh aja rasanya dulu aku mau begitu.


***


"Sal, ikut pensi sekolah yok"

"Ngapain?"

"Drama"

"Hah, gila kamu. Aku mana bisa main drama"

"Kamu bisa tapi malas mencoba. Dasar pemalas"

Aku nggak mau dong diremehkan begitu apalagi diremehkan Ivan. Aku menerima ajakan Ivan untuk bergabung dalam drama pensi sekolah meski aku nggak tau aku akan bermain dalam drama apa.

"Sal, kamu jadi Juliet ya"

"Eh? Kenapa aku? Ini drama Romeo dan Juliet?! Nggak ah. Aku nggak jadi ikut kalau gitu"

"Nggak boleh. Kamu harus ikut, kita nanti akan beradegan mesra. Aku yang jadi Romeo-nya Sal"

"Ah apalagi dengan kamu, makin males aku"

"Ayoklah, nanti kita pacaran biar adegannya bagus dan feel nya sampai ke penonton"

Kacau perasaan ku saat Ivan bilang nanti akan pacaran. Aku juga nggak ngerti itu benar pacaran atau cuma sebatas peran? Ivan mulutnya nggak bagus banget, merusak suasana aja. Ivan yang masih nggak tau kalau aku mencintainya terlihat santai saja setelah ngajak aku berpacaran itu. 


"Mulutmu sembarangan Van! Emang aku cewek apa yang mau kamu ajak pacaran gitu aja!"


"Nggak apa-apa, Sal. Kan sebenarnya kamu mau banget jadi pacarku. Yakann? Ngaku ajadeh nggak apa-apa"

Aku nggak tau Ivan sedang serius atau masih bercanda. Nggak ada perbedaan yang mencolok dari sikapnya yang bisa aku teliti apakah dia sedang bercanda atau tidak. Yang aku takutkan sekarang, apa benar dia mengetahui bahwa aku mencintainya? Rasanya nggak mungkin karena memang nggak ada satu orangpun yang tau bahwa aku mencintainya. Ini adalah rahasia ku dengan Tuhan. Iya. Cuma aku dan Tuhan saja yang tau kalau aku mencintai Ivan. Atau jangan-jangan dia bisa membaca pikiranku? Ah pikiranku kacau apa yang harus aku jawab. Aku udah habis kata-kata.

"Kan kamu diam nggak jawab, kamu benar suka kan sama aku? Nggak apa-apa kok Sal"


"Jadi, maksudmu?"

Comments

Popular posts 🌻

Kamu bosan? Aku nggak (1)

"aku capek" Kata itu keluar dari mulut kecilnya yang sontak membuatku berhenti berjalan dan terdiam sejenak. Aku bingung dengan pernyataannya. Rasanya seperti dihantam badai besar. Tubuhku lemas membayangkan kata perpisahan darinya. Ah pikiran ku terlalu jauh. Hari ini adalah hari pertama kami bertemu kembali setelah semalam kami bertengkar di depan kedai kopi langganannya. Aku bingung. Apakah dia capek karena sudah berjalan menyusuri tepi pantai cukup jauh atau dia capek dengan hubungan ini. "apalagi salahku sampai dia bisa berbicara seperti itu? apalagi? semalam aku sudah mengalah dan bahkan aku yang meminta maaf terlebih dulu padahal aku tau aku nggak salah" Banyak pertanyaan berkumpul di kepalaku yang seolah ingin membunuhku. "kita duduk dulu yuk, sunset nya lagi bagus" Lagi-lagi aku menahannya. Aku nggak mau bertengkar dengannya saat ini. Aku harus tetap tenang menghadapi manusia yang sangat aneh ini. Aku nggak mau kehilangan dia. N...

Beda

"Ayo cepat! Larii, hahahhaha" Bahagianya Zico yang meneriaki aku dari jauh. Terlihat dia begitu bahagia dan tentu saja aku juga sangat bahagia dengan laki-laki tinggi berambut gondrong ini. Aku senang dengan Zico meski kami nggak ada hubungan spesial. Aku selalu bersama Zico, entah kenapa akhir-akhir ini setiap kegiatan aku selalu bersamanya sampai-sampai banyak orang yang mengira kalau aku dan Zico berpacaran. Apa mereka nggak tau kalau itu nggak akan mungkin terjadi? Hal yang cukup mustahil dalam hubungan ini. "Udah ah, aku capek" "Baru 2 putaran udah capek, cemen kamu Fi" Begitulah Zico, suka banget ngeledek aku bahkan kadang suka kelewatan tapi kenapa ya aku nggak pernah marah kalau diledekin dia? Zico emang beda banget dari teman-temanku yang lain .  Setiap Sabtu sore aku selalu nemenin dia lari di gor pusat, Zico suka banget olahraga dan kayanya dia bisa semua cabang olahraga deh. Kadang dia bisa olahraga seharian, paginya...