Hei, kok bisa ya semuanya berubah begitu saja? Aneh ya. Kamu adalah orang yang aku kenal sejak lama. Namun sekarang kamu bukan kamuku lagi. Kamu bukan kamu yang aku kenal, dulu. Aku bingung harus apa, sayang. Maaf aku masih memanggil mu sayang, anggap saja yang terakhir kalinya. Katamu kita tidak akan berpisah. Tapi nyatanya...
Kamu meninggalkan aku dengan tanpa. Tanpa rasa bersalah, tanpa sedih, dan tanpa rindu yang tersisa walau sedikitpun -tidak ada.
Aku harusnya tidak percaya dengan kata-kata mu. Atau mungkin harusnya aku bisa memilih perkataan mu, memilih mana yang harus aku percaya dan yang harus aku abaikan saja. Harusnya kata-kata manis mu itu aku abaikan saja, ya? Harusnya aku tidak mudah percaya, ya? Ah banyak sekali kesalahan ku selama dengan mu. Tapi terimakasih ya, aku belajar banyak. Banyak sekali...
Hei, sekarang kamu sudah benar-benar bebas lho. Aku sudah menerima kalau kita berpisah, walau belum lama sih. Oh ya, aku sekarang jadi terlalu pemilih (kata orang). Aku rasa tidak begitu, tapi sebenarnya memang begitu adanya. Kurasa tidak apa-apa, lebih baik begitu daripada aku harus menyakiti hati orang yang mencintaiku. Kurang lebih seperti yang kamu lakukan padaku, dulu.
Comments
Post a Comment