Aku masih nggak tau apa maksud Ivan itu karena dia nggak menjawab pertanyaan terakhir ku. Pertanyaan yang kini harus aku duga-duga sendiri bagaimana jawabannya.
Aku pulang dengan bekal pertanyaan yang tak kutemui jawabannya. Tapi apa boleh buat? Nggak seharusnya aku meminta jawaban itu dari Ivan, kan pertemanan ku dengan Ivan udah lama(?). Ku rebahkan tubuhku di atas kasur dan sejenak membiarkan pikiran ku melayang memikirkan hal yang tak seharusnya dipikirkan. Aku menangis menyadari semua ini. Menyadari bahwa memang Ivan nggak menyukai aku seperti bagaimana aku padanya. Malam itu aku mencoba dengan sungguh untuk berdamai dengan diriku, dengan perasaan Ivan yang bukan untukku.
Akhirnya aku menerima peran Juliet yang Ivan tawarkan dan tampil didepan banyak orang sebagai sepasang kekasih yang begitu serasi namun memang benar, itu hanya di dalam drama. Sejak latihan sampai penampilan selesai aku nggak pernah membahas pertanyaan yang bersangkar di kepalaku yang ku harap Ivan mau memberi tau aku jawabannya tanpa perlu aku minta.
Kenapa Ivan nggak menjawab pertanyaan ku? Apa benar dia hanya bercanda? Tapi yang ku tau tentang perasaan, itu nggak ada yang bercanda
Setelah berminggu-minggu berlalu, Ivan kembali bercerita dengan ku namun kali ini ceritanya tak membuat ku bahagia mendengarnya. Aku senang jika dia senang tapi aku akan lebih senang jika Ivan senang karna aku bukan karna orang lain.
"Sal, tau nggak aku udah nembak Hanifa"
"Hah? Hanifa?! Kenapa bisa Van?!"
"Ya bisa lah, kan aku keren"
Andai Ivan tau bagaimana perasaan ku mengetahui kabar bahagianya yang jelas itu nggak membuat aku bahagia sama sekali. Aku sedih walau sebenarnya aku nggak perlu sedih. Aku berduka walau sebenarnya nggak pantas ada kata duka. Karna sebelumnya aku udah berdamai dengan kenyataan ini bukan?
"Jadi, udah diterima dong ya?"
"Heheheh masih permulaan, semoga aja dia bisa memahami aku seperti kamu kepada ku ya, Sal"
Nggak. Nggak ada yang bisa memahami mu sebaik aku. Nggak ada yang mencintai kamu setulus aku. Nggak ada yang menerima kamu seperti aku. Nggak ada. Tapi apa boleh buat jika kamu nggak mengerti itu dan apa boleh buat jika sebenarnya memang tidak ada kereta dengan tujuan aku di dalam peta perjalananmu.
Sedih sekali mengetahui bahwa ternyata Ivan benar-benar tidak menyimpan sedikit rasa untukku. Apa aku terlalu hebat menyembunyikan rasa sampai-sampai Ivan nggak menyadari rasa ku ada untuk dia?
Ivan yang kukenal kini bukan lagi Ivan yang suka mengganggu ku. Bukan lagi yang suka ngomel tentang posisi dudukku. Ivan berubah dan harusnya aku juga begitu. Harusnya aku juga menghapus rasa ku padanya yang memang dia pun nggak tau bahwa itu ada.
***
Selang beberapa hari setelah Ivan bilang dia udah nembak Hanifa akupun terbiasa dengan kenyataan ini. Aku harus bersikap biasa saja seolah aku baik-baik saja mengetahui itu.
Roby, teman Ivan yang kurasa dia sedang menyukaiku. Bukannya aku kepedean sih, tapi bener kok buktinya sekarang dia sering menghubungi aku. Bahkan sering banget nanyain aku lagi apa meski aku jarang banget balas pesannya itu karna memang aku nggak tau mau balas apa. Tapi anehnya aku malah suka dengan pertanyaan basi yang Roby kirim kepada ku. Kayanya dia mulai mendekati aku karna aku udah jarang banget pergi atau sekedar ngobrol sama Ivan. Aku yang sempat patah hati karna Ivan mikir kayanya ini kesempatan buat aku menerima kehadiran Roby, kehadiran orang yang mencintai aku. Tapi tunggu, bukannya terlalu cepat kalau aku mengira bahwa Roby menyukai ku kan?
Roby belum mengatakan kalau dia mencintai aku tapi kenapa aku yakin kalau Roby benar mencintaiku, ya?
Ah perasaan memang nggak bisa ditebak. Bagaimana bisa aku berpaling begitu cepat dari Ivan. Aku udah memendam rasa cukup lama pada Ivan tapi kenapa Roby bisa menyelinap masuk ke hati ku yang sudah dari dulu aku persiapkan untuk Ivan meski kenyataannya Ivan nggak akan berada disana.
Tapi apa boleh buat? Cintaku pada Ivan memang tak berbalas, tak akan berbalas. Tidak ada salahnya jika aku mau membuka hati untuk Roby, membuka hati untuk orang yang pantas dicintai. Seakan-akan Tuhan sengaja mendatangkan Roby supaya aku bisa berpaling dari orang yang hanya menganggap aku teman nggak lebih, dari orang yang hanya membuat aku capek, capek karna udah meletakkan harapan pada orang yang salah.
Aku dan Ivan saling sibuk. Sibuk dengan kisah masing-masing. Aku tidak lagi memperdulikan kegiatannya dan begitu juga dia padaku. Saling jauh dan mungkin sengaja menjauh. Saling berharap tidak ada pembahasan berdua lagi. Saling berharap tidak ada keributan yang menghadiahkan rasa sayang lagi. Aneh bukan? Ivan yang tidak menyukai aku kini sikapnya berubah sejak mengetahui aku dekat dengan Roby dan padahal dia juga udah jadian sama Hanifa.
Perubahan Ivan padaku sempat membuat aku berpikir kalau sebenarnya dia juga pernah menyukai aku tapi gengsi. Tapi menyebalkan bukan? Aku pernah suka sama dia dan dia nggak. Dia jatuh cinta dengan orang lain malah aku harus menerima. Aku harus menerima kenyataan, tapi kenapa dia seperti tidak diharuskan? Aku nggak pernah membenci dia karna dia punya pacar. Aku juga nggak menjauhi dia kok, tapi sejak aku dengan Roby dia malah jauh. Nggak adil rasanya. Aku harus membunuh perasaan ku padanya sedangkan dia enak aja kabur dari ketidakterimaannya pada keadaan.
Untuk pertama kalinya dia berbicara padaku lagi, bukan menyuruh ku untuk geser ataupun permasalahan tempat duduk, tapi...
"Sal, aku nggak suka kamu dekat dengan Roby!"
"Hah? Apa urusan kamu mengatur orang yang dekat dengan ku?"
"Aku nggak suka. Kamu jauhin dia aja"
"Untuk apa aku mematuhi perintah kamu? Apa peduli ku dengan kesukaan mu? Kamu dengan Hanifa aku nggak pernah komen kan?"
Percakapan bodoh yang jelas saja langsung aku tinggalkan itu entah bagaimana akhirnya. Aku pergi saja dari kelas dan berat sekali rasanya untuk masuk ke kelas itu lagi dan bertemu Ivan. Entahlah bagaimana cara menghadapi Ivan nanti. Entah aku harus menyelamatkan hatinya atau hatiku. Entah aku harus menyelamatkan keadaan atau perasaan. Aku nggak tau lagi...
Haii
ReplyDeleteHai juga :D
ReplyDelete